Pada umumnya, standar moral para pengusaha masih sangat lemah bahkan payah. Tidak sedikit dari para pebisnis yang lebih memilih mengambil jalan pintas, bahkan menghalalkan semua cara untuk mencari dan mendapatkan keuntungan dengan mengorbankan etika bisnis.
Banyak perusahaan yang sering menghadapi konflik kepentingan seperti mungkin adanya ketidakselarasan antara nilai-nilai pribadi yang dianutnya, atau konflik antara peraturan yang berlaku dan tujuan yang ingin dicapainya, atau nilai-nilai pribadi yang dianutnya dan bisnisnya. Semua konflik-konflik tersebut muncul karena praktik yang dipraktikkan oleh sebagian besar bisnis lain, atau dipraktikkan antara kepentingan perusahaan dan kepentingan masyarakat. Mereka yang tidak mengikuti standar moral bisa gagal karena mengabaikan aturan dan mengejar tujuan mereka.
Selain itu, situasi politik dan ekonomi juga bisa dikatakan tidak stabil. Ditambah dengan banyaknya permainan politik yang dilakukan oleh elit politik yang di satu sisi membingungkan masyarakat umum dan di sisi lain memberikan peluang bagi mereka yang mencari dukungan elit politik untuk usaha bisnis yang sukses. Keadaan buruk seringkali menimbulkan spekulasi untuk mengambil peluang keuntungan, apapun hasilnya. Lemahnya penegakan hukum, sehingga banyak orang yang dihukum oleh pengadilan masih bisa berkeliaran dengan bebas dan terus memegang posisi di pemerintahan. Kondisi ini memperumit upaya memotivasi pelaku bisnis untuk mematuhi standar etika.
PELANGGARAN ETIKA BISNIS
Masalah etika bisnis ibarat racun dalam bisnis yang bisa merugikan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran, misalnya seperti engutamakan kebutuhan individu. Dalam hal ini, pengusaha hanya memikirkan dirinya sendiri dan memenuhi keinginannya tanpa memikirkan banyak pihak. Kedua, persaingan dalam dunia bisnis memaksa orang untuk mendapatkan keuntungan yang mereka inginkan. Dalam hal ini, banyak perusahaan mengurangi biaya produksi, menghasilkan bahan yang tidak layak pakai.
Penyebab utamanya adalah adanya konflik antara nilai-nilai perusahaan dan individu. Misalnya, ada metode baru dan tidak dapat diterima. Pelanggaran Lainnya adalah ketika pengusaha tidak dapat menggunakan bahan terbaik dalam terus menjalankan usaha bisnisnya.
Shafia UlyaÂ
Universitas Mercu Buana (Program Studi S1 Manajemen)Â
43122010164Â
Apollo, Prof.Dr, M.Si.Ak
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI