Maka yang perlu kita lakukan adalah mencari solusi yang terbaik untuk semua permasalahan. Contoh : apabila siswa yatim/yatim piatu dan tidak mampu, maka harus ada dukungan yang cukup dari sekolah agar tetap dapat melaksanakan pembelajaran tersebut, misalnya dengan mengirimkan tugas ke rumah, home visit dengan protokol yang ketat, dan setiap aplikasi yang dipakai dalam pembelajaran sebaiknya juga menjadi kesepakatan antara pihak sekolah dan wali murid.
Apabila memang ada penerapan home visit dipadukan daring menjadi alternative pembelajaran gabungan atau dengan Konsep Blended Learning dapat menjadi solusi.
Semler (2005) mengatakan bahwa : "blended learning mengombinasikan aspek terbaik dari pembelajaran online, aktivitas tatap muka terstruktur , dan praktik dunia nyata. Sistem pembelejaran online, latihan di kelas, dan pengalaman on-the-job akan memberikan pengalaman berharga bagi diri mereka. Blended learning menggunakan pendekatan yang memberdayakan berbagai sumber informasi yang lain".
Ini lebih memungkinkan mungkin untuk anak-anak yang mempunyai kendala tidak bisa sepenuhnya pembelajaran daring. Jadi tetap menghadirkan pembelajaran berbasis teknologi atau daring tetapi sisi humanisnya tetap menjadi penekanan.
Terkait Pendidikan yang humanis , menurut Shodiq A. Kuntoro ( 2008 : 8 ).Anak didik perlu diperlakukan sebagai subyek yang memiliki peran sendiri, dapat mengatur kegiatannya sendiri, bukan sebagai obyek yang segala sesuatunya ditentukan oleh pendidik.
Dalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, ada dua hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan).
Pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Dan cara pandang ini juga sangat sesuai dengan Konsep Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kita.
Terakhir penulis ingin menyampaikan, keseimbangan dalam pembelajaran berbasis teknologi harus diimbangi dengan aplikasi nilai-nilai kemanusiaan yang agung, sehingga dalam pendidikan akan menjadi ideal yang sesungguhnya, cerdas intelektual, emosional dan spriritual dimana terlihat pada penerapan pembelajaran berbasis teknologi yang humanis.
https://wordpress.com/read/feeds/107830145/posts/3269624182
Penulis :
Dr. Sarmini, S.Pd.,MM.Pd, Direktur Pendidikan Sekolah Islam Nabilah, Batam,