[Malu kenapa? Kan yang lihat cuma saya.]
[Aku nggak cantik.]
[Kata siapa nggak cantik? Itu foto profil kamu, dari samping saja sudah kelihatan cantik, kok.]
Kali ini Asih tak langsung menjawab. Debaran jantungnya begitu keranjingan. Meletup-letup seperti air nirah kelapa yang sudah dimasak dalam waktu yang cukup lama.
Ini memang bukan pertama kalinya dia dipuji cantik oleh lawan jenisnya. Parasnya yang menawan khas gadis desa memang banyak mengundang kagum mata. Bahkan banyak gadis tetangga yang iri padanya.
Namun, entah kenapa kali ini rasanya begitu berbeda. Asih mendapatkan sensasi lain dalam dirinya. Kata-kata dari pemuda yang belum pernah ia temui itu, dengan mudah membuatnya terlena. Hanya membaca pesan darinya, jantung Asih berdebar merasakan cinta.
[Nggak boleh, ya?]Â
Pemuda itu kembali mengirimi Asih sebuah pesan. Meski pesan yang sebelumnya, belum menerima jawaban.
[Nggak!] balas Asih cepat.Â
Gadis berlesung pipi itu tidak mau terkesan mudah menerima. Selama ini ada banyak pemuda yang mengejarnya. Egonya sebagai seorang kembang desa sedang dipertaruhkan.
[Duh, padahal aku pengin kenalan niatnya buat serius loh, Dek, sama kamu. Nggak tahu, rasanya nyaman aja ngobrol sama kamu. Kayaknya aku jatuh cinta sama kamu, Dek. Lihat wajah kamu di foto, meski cuma dari samping saja sudah membuat aku berdebar-debar.]