Mohon tunggu...
Sapta Arif
Sapta Arif Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Menyukai pepuisi, cerita-cerita, kopi, dan diskusi hingga pagi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Renjana

2 Maret 2018   10:50 Diperbarui: 2 Maret 2018   12:16 785
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi: ink.imalone.us

 

"Jika Dewi Shinta lebih dulu bertemu Rahwana, akankah dia tetap mencintai Rama, ketika mereka dipertemukan? Mungkinkah jika ia malah mencintai Rahwana? Bukankah Shinta sosok yang ditakdirkan untuk setia?"

Barangkali cinta akan lebih indah ketika tidak diungkapkan. Sekedar dinikmati sendiri. Senang sendiri. Sedih sendiri. Bahkan menikmati rindu sendirian. Bukankah menikmati kesendirian lebih baik, dari pada membunuh kebahagiaan orang lain. Namun apakah Tuhan sudah memikirkan soal keadilan ketika menciptakan cinta. Maksudku, apakah ada keadilan ketika kita bicara soal cinta. Ataukah cinta memang hanya butuh rasa saling suka, dan tentu saja nafsu belaka.

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berlarian di atas kepalaku, Shinta. Setidaknya jawaban itu belum pernah aku temui sampai senja ini. Ketika aku bisa duduk bersanding denganmu, di senja yang merah. Senja yang tidak biasanya. Ada sedikit bau anyir darah di senja kita.

Shinta, menatap senja sama halnya mengenang masa lalu kita. Suatu sore yang basah, masih dengan senja yang sama tepat sepuluh tahun yang lalu. Kau menemuiku di kedai yang sama, dengan aroma kopi yang selalu menggoda. Tentunya kupilihkan tempat di samping jendela agar kita lebih leluasa menikmati senja. Seperti hari-hari sebelumnya secangkir cappuccino dan beberapa potong tiramisu. 

Kala itu kita masih malu-malu untuk mengakui tentang cinta. Kau pun masih seperti hari-hari sebelumnya dengan rambutmu yang tergerai. Lalu sinar wajah yang alami tanpa sapuan make up,namun begitu memesona untuk dilihat oleh puluhan pasang mata yang ada di kedai kala itu. Lalu kau menghampiriku, meski agak terlambat sepuluh menit dari waktu kita.

Namun Shinta, ada yang berbeda darimu sore itu. Bukan dari gaun merah yang kau kenakan kala itu. Bukan pula tumpukan amplop yang kau bawa di cangkingan tasmu. Bukan, bukan itu. Matamu sembab, Shinta. Padahal aku belum menyodorkan cincin yang minggu lalu aku beli di Singapura. Aku juga belum berkata apa-apa tentang rencana kedatangan orang tuaku ke rumahmu. Aku belum sempat berucap apa pun sore itu. Namun kau datang dengan matamu yang sembab. Duduk di depanku, meletakkan cangkinganmu di samping kursi lalu diam. Aku pun diam menunggu ketenangan di deru nafasmu.

"Rah? Apakah Salwa benar-benar mencintai Amba kala itu?" tiba-tiba kau melahirkan kata. Namun pertanyaanmu begitu ganjil kala itu.

Salwa memang benar-benar mencintai Amba, Shinta. Namun harga diri seorang laki-laki kala itu memang harus ditentukan lewat pertempuran. Dan Salwa memang kalah tanding dengan Bhisma, jawabku kala itu. Lalu entah mengapa kamu langsung menggebrak meja. Hujan jatuh di sudut matamu. Seketika kau tutup wajahmu kala itu. Aku pun tenggelam bersama kisah sedihmu.

"Tapi kenapa, Salwa tidak memperjuangkan cintanya pada Amba? Dan membiarkan Amba terombang-ambing dengan rasa bersalahnya. Apa itu bukti cinta Salwa?" pertanyaanmu sontak membuatku terdiam Shinta.

"Ataukah Bhisma juga sebenarnya mencintai Amba?" pertanyaanmu yang ini semakin menenggelamkanku dalam kediaman. Aku tak mengerti maksudmu sore itu.

Lalu tentu saja, kediamanku kau pecahkan dengan amplop putih bergambar merpati yang bertuliskan namamu. Kau menyodorkan padaku. Ada penyesalan yang terpancar di sudut matamu. Matamu masih sembab, sisa-sisa tangisanmu mengembun di bola mataku. Namun aku mencoba membendung jatuhnya rintik hujan kala itu.

"Bulan depan aku menikah, Rah. Rama melamarku." terbata-bata kau rangkai kalimat yang mendiamkanku. Mendiamkan seluruh darah dan denyut cintaku.

Nama itu sudah terpatri jelas di amplop yang kau bawa. Rama Wijaya---seseorang kala itu pernah kau kenalkan sebagai mitra kerjamu. Matamu masih sembab, namun bulan sudah berangkat ke ruang kerja. Bintang-bintang bertaburan, nampaknya malam bersuka cita menyambut pernikahan kalian. Namun gemuruh di hatiku kala itu tidak bisa kubendung Shinta. Air mataku luruh bersama kepergianmu dari kedai kala itu. Barangkali itu tangisanku yang pertama kali sejak tangisanku saat tertabrak motor ketika berusia sepuluh tahun.

Namun sekarang sudah berbeda, Shinta. Mulai sekarang dan mungkin tahun-tahun ke depan kau milikku Shinta. Kini kau sudah ada di pelukanku, menikmati senja yang memang bertambah merah sore ini. Kita duduk bersama di loteng rumahmu menikmati ritual senja seperti masa-masa indah kita dulu. Kubopong tubuh mungilmu dari lantai satu ke lantai dua. Kurebahkan tubuhmu dengan pasrah di kursi kayu yang sudah kusiapkan untuk kita.

Kau begitu cantik meski matamu tertutup, dan darah mengucur dari perutmu. Bibirmu yang merah merona begitu manis. Kubelai rambutmu yang tergerai. Nampaknya kau begitu menikmati ritual senja kita.

Shinta, sejak cinta hadir di antara kita. Aku sudah merasa bahwa mencintaimu adalah bahagia dan sedih---seperti yang pernah dikatakan Rendra. Bahagia karena memilikimu di dalam hatiku. Dan sedih karena mencintaimu sama halnya merelakan sebuah perpisahan yang entah kapan datangnya. Dan memang perpisahan itu benar-benar terjadi Shinta. Dua puluh Mei sepuluh tahun yang lalu, di jari manismu melingkar cintanya. Cinta Rama.

Namun aku mengerti Shinta, jauh di lubuk hatimu masih kau bungkus rapi parsel cintaku. Terbukti berkali-kali kau mendatangiku dalam mimpi. Setangkai bunga kamboja dengan pita hitam yang melingkarinya. Kau masih sama, dengan rambutmu yang tergerai dengan gaun merah, kala itu. Samar-samar sering kujumpai permintaan untuk menengokmu. Nampaknya kau rindu padaku. Lalu kumantapkan pada puncak niatku, aku akan mengunjungimu dan menunaikan kerinduanku.

Seperti dendam, rindu juga harus dibayar sampai tuntas. Namun rasanya rindu dan dendam dalam hatiku sudah mendidih pada titiknya, maka siang ini, aku mantap menuntaskannya. Aku mendatangi rumahmu yang megah, berbekal pisau kecil yang kusembunyikan pada karangan bunga. Hari ini rinduku harus tuntas.

Aku datang tepat pukul dua belas di arlojiku. Setelah turun dari taksi, aku masuk melewati gerbang rumahmu yang memang tak pernah kau kunci. Kupencet bel rumahmu---aku berharap kau yang membukanya untukku---, agak lama kau biarkan aku membeku di depan pintu. Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki dari dalam, samar-samar kuintip dari jendela rumahmu. Aku kenal orang itu. Pintupun terbuka, aku berjalan mendekat dan menarik pisau yang kuselipkan pada karangan bunga. Lalu kutusuk tepat di rongga perut kiri. Laki-laki itu mengeram kesakitan. Kutarik lagi dan kupotong nadi yang ada di lehernya. Rama mati dalam sekejap. Darahnya membanjiri ruang tamumu.

Anakmu yang masih balita saat itu mendekat ke mayat Rama. Dia agaknya belum paham yang dialami ayahnya. Pa-pa. Pa-pa. Dua kata itu terucap sambil berlari girang ke arah Rama. Tiba-tiba kudengar teriakanmu dari ruang tengah, sambil berlari air matamu banjir. Nampaknya kau begitu bahagia menyambut kedatanganku. Sudah lama sekali Shinta, kita tidak bertemu.

"Ayah! Apa yang kau lakukan pada Suamiku!"

Aku agak kecewa, kala itu. Kau mengambil guci yang ada di sudut ruang tamu. Sambil berlari kau lempar kepadaku. Apakah ini sambutan hangatmu, setelah sekian lama kita tak temu. Aku spontan menghindar. Kau peluk anakmu, lalu kau lari lagi ke ruang tengah.

Aku yang masih ingin bertemu denganmu, mengikutimu. Kulihat kau mengunci anakmu di kamarnya. Kau keluar dengan pisau dapur. Entah setan apa yang merasukimu Shinta. Tiba-tiba kau ingin membunuhku. Padahal aku telah membebaskan cinta kita. Rama sudah tiada. Sekarang kau milikku seutuhnya.

Namun nampaknya setan merasuk lebih dalam ke relung jiwamu. Dua kali sabatan pisaumu mengenai pipi dan lenganku. Aku berusaha menyadarkanmu, bahwa kita seharusnya bergembira. Kitalah yang memiliki dunia.

"Kau gila, Rah! Kau gila!" sabatanmu membabi-buta memecah segala yang ada.

Ruang tengahmu berantakan. Piring kau lempar. Guci kau lempar. Bahkan kau coba melempar TV mu. Namun nampaknya kesedihanmu, melemahkanmu. Tapi, tapi kenapa kau harus sedih Shinta. Nampaknya aku harus mendapat jawaban darimu. Kudekati tubuhmu dengan berlari. Lalu kupukul tengkukmu. Kau pingsan seketika.

"Kau gila, Rah! Kenapa kau lakukan ini padaku?" isakmu kala itu. Sengaja aku ikat tanganmu agar kau mau berbicara denganku. Bukankah, kita saling mencintai, tanyaku padamu.

Air matamu kembali merembes. Matamu sembab, seperti sepuluh tahun yang lalu. Tak ada kata maaf atau terima kasih darimu. Hanya cacian dan omong kosong tentang cintamu dengan Rama. Tentang Arjuna buah hati kalian. Atau tentang mitos keabadian cinta Rama-Shinta. Diam! Teriakku. Aku muak. Aku muak, mendengar celotehmu Shinta. Lalu kutusukkan pisauku ke rongga perutmu. Hujan turun dari sudut matamu.

"Biadab, kau Rah! Inikah bentuk cintamu padaku?" kau mengisak menahan lukamu.

Lalu kubopong tubuhmu yang berlumuran darah menuju loteng rumahmu. Ada sedikit senyum tertambat di bibirmu. Barangkali kita bisa menikmati senja bersama lagi Shinta.

"Aku mencintai Rama. Karena aku setia padanya. Jadi inikah tendesi cintamu, Rah?" kau masih mengisak, dengan tubuhmu yang terkulai. Matamu sembab.

"Tapi, terima kasih, Rah. Karena sudah mengabadikan cintaku padanya." Suaramu terpotong, nafasmu yang telah hilang.

Ya, Shinta, harus kuakui. Mencintaimu adalah bahagia dan sedih. Bahagia karena memilikimu di dalam hatiku. Dan sedih karena cinta kita tak pernah bersatu. Aku mengakhiri nyawamu bukan karena aku membencimu. Namun aku takut, ada yang memilikimu lagi, selain aku.

Dan akhirnya tubuhmu kubopong untuk menikmati senja terakhir kita. Aku sadar, mencintai adalah tentang kerelaan. Dan memang ada cinta darimu yang kau titipkan padaku. Aku sadar, ketika tangisan anakmu mulai memanggilku dari kamarnya.

***

Ditulis dengan penuh kerelaan, untuk yang mencintai dalam kenangan.

Surakarta,September 2017

*) Pernah dipublikasikan di harian Radar Surabaya edisi 1 Oktober 2017

 

 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun