Jam 05.30 tepat, seperti biasa alarm berbunyi.
Beberapa hari belakangan ini aku merasa cemas luar biasa, kecemasan yang membuatku sulit tidur. Â Aku merasa, setiap pagi akan menjadi awal dari berakhirnya pekerjaanku di kantor.
Dari kamar mandi terdengar suara gayung yang beradu dengan air di dalam bak. Â Lima menit lagi istriku pasti selesai mandi.
Aku mematikan alarm kemudian menuju meja makan. Â Setangkup roti tawar isi mentega ditambah irisan daging, sebutir telur mata sapi, serta segelas susu rendah lemak sudah tersedia.
Aku tersenyum getir.
Karena sulit tidur, akhirnya aku tahu jam berapa istriku bangun untuk membersihkan rumah, menyiapkan pakaian kerja kami berdua, lalu menyiapkan sarapan.
Kenapa aku nggak pernah tahu sebelumnya?
Selelap apa aku tidur sampai-sampai tidak tahu sebegitu banyak yang dia lakukan di pagi buta?
Sepuluh detik kemudian pintu kamar mandi terbuka, istriku keluar dari kamar mandi, dan mengucap salam padaku sambil lalu.
"Sayang," aku memanggilnya.
"Ya?" dia menghentikan langkah sejenak dan memandangku. Â Rambut pendeknya masih terlihat basah.
"I love you."
Mendengar kata-kataku barusan, istriku tertawa kecil.
***
Jam 08.20, aku turun dari ojek online dan bergegas menuju mesin presensi.
Walaupun entah apakah masih ada gunanya buatku.
Mungkin saja ini bakal jadi hari terakhirku bekerja di sini.
Hanya beberapa saat sebelum pintu lift tertutup, aku melihat Bella si cantik sekretaris direksi berlari ke arahku.
"Tunggu!" teriaknya.
Tanpa pikir panjang, aku menekan tombol -- menahan agar pintu tidak tertutup.
Terlambat?
Masa bodoh!
Bella pun menghambur masuk lift.
Napasnya terengah.
"Terimakasih," katanya kemudian mengambil berdiri di sampingku. Â Aku hanya mengangguk dan tersenyum tanpa mengucap sepatah kata.
Dari tubuhnya tercium aroma yang sangat seksi, perpaduan keringat dengan parfum yang ia gunakan.
Lift mulai bergerak.
Aku masih diam.
Dalam keadaan biasa, ucapan terimakasih Bella tadi bisa kumanfaatkan sebagai pembuka obrolan. Â Tapi pikiranku saat ini benar-benar kalut sehingga aku lebih memilih diam.
"Beritanya sudah nyebar," ujar Bella tiba-tiba dengan suara pelan. Â Pandangannya tetap lurus ke depan.
Deg!
Aku menoleh ke arahnya.
"Berita... apa?" pertanyaan bodoh pun terlontar. Â Memangnya berita apa lagi yang dia bicarakan?
Kali ini Bella menoleh ke arahku.
"Berita itu, kamu ribut sama pak Ryan di parkiran," ucapnya.
"T... terus...?" tanyaku.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Bella berjalan dengan cepat, aku pun berjalan mengimbanginya.
"Terus gimana?" tanyaku padanya. Â "Kamu sekretaris direksi, pasti tau kabar-kabar dari atas."
Bella masih terus berjalan, ia tak langsung menjawab pertanyaanku barusan hingga kami sampai di mesin presensi. Â Ia meletakkan jarinya di mesin pemindai, begitupun aku.
Jam menunjukkan angka 08.26.
"Secara pribadi dan sesama rekan kerja, aku support kamu," katanya. Â "Aku juga yakin kalau owner denger berita ini, dia support kamu."
Mendengar kata-katanya barusan, aku teringat bahwa pemilik baru kantor ini adalah seorang perempuan, pebisnis yang sangat tangguh.
Bella mengangkat bahu.
"Yah, semoga semua baik-baik saja."
Hanya sekilas, aku sempat melihat Bella mengedipkan mata.
***
Jam 11.25, kabar yang menggemparkan itu akhirnya sampai ke telinga kami.
Informasi resmi dari perusahaan menyebut pak Ryan dipindahtugaskan untuk pengembangan kantor cabang.
Namun rumor yang beredar mengatakan lain.
"Pak Ryan diminta resign..."
"Dia dikasih duit, terus disuruh tanda tangan golden shake hand."
"Pokoknya intinya gitu!"
"Pak Ryan dipecat!"
"Apa gara-gara kasus yang di parkiran itu?"
Sepanjang hari ini, beberapa rekan kerja menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Â Beberapa meledekku, mengatakan aku beruntung, beberapa lagi mengatakan bahwa aku hebat karena baru kali ini dalam sejarah ada bos yang kalah melawan anak buahnya.
"Lu pake ilmu apa sih?" rekan-rekanku bercanda.
Aku sendiri sejak beberapa hari sebenarnya sudah mulai membereskan meja kerjaku, bersiap untuk kemungkinan terburuk yang bisa datang kapan saja.
Tapi,
Siapa yang menyangka arahnya jadi seperti ini?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Bagaimana bisa jadi seperti ini?
Dan, aku melihatnya lagi, lebih jelas.
Saat berpapasan tadi, Bella mengedipkan mata padaku.
Kali ini aku tak salah lihat.
***
Jam 21.11, istriku yang membukakan pintu terkejut melihat apa yang kubawa.
"Kamu...," katanya, "...apa kamu...?"
Raut wajahnya tampak bingung.
"Dipecat?" tanyaku hendak menegaskan apa yang ada di pikirannya.
Istriku mengangguk.
Aku menyerahkan pizza dan barang-barang belanjaan yang kubawa padanya.
"Aku bersyukur, hari ini masih hari baikku. Â Aku beruntung," kataku.
"Eh? Â Hari baik gimana?" istriku masih kebingungan. Â "Apa yang terjadi?"
Aku merangkulnya.
"Kita cerita di dalam saja?"
Ia mengangguk.
Kami berdua masuk ke dalam rumah.
***
Jam sudah menunjukkan angka 23.26, aku mematikan televisi dan beranjak ke kamar tidur.
Aku merebahkan badan di samping istriku yang sudah tertidur lelap. Â Samar tercium wangi lembut dari tubuhnya.
Untuk sejenak, aku merasa ingin memeluknya, namun segera kutepis keinginan itu.
Aku tak pernah ingin mengganggu orang tidur.
Kasian juga, setiap hari dia bangun jam 4.
Apalagi, beberapa hari belakangan ini sangat melelahkan dan menguras energiku.
Sejenak sebelum memejamkan mata, aku teringat kedipan mata dari Bella yang kulihat hari ini.
Terlintas satu pertanyaan di benakku.
Kenapa? Apa artinya kedipan itu?
Dan fantasiku tentang Bella kembali menyeruak.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI