Peter Carey telah membuat banyak buku tentang Diponegoro. Pemilik nama lengkap Dr. Peter Ramsay Carey MBE itu sudah melakukan penelitian tentang Diponegoro selama 30 tahun.
Peter Carey, kelahiran Yangoon, Myanmar, 30 April 1948 (74), menjadi sejarawan yang paling tahu dari seorang Diponegoro mulai dari kepemimpinannya di Perang Babad Jawa, kebiasaannya sehari-hari, hobinya, makanan yang disukai, sampai kepada kesukaannya kepada kaum hawa.
Dalam dua bukunya tentang Diponegoro, pengajar di Oxford University, Inggris, itu mengungkapkan hal yang tak terduga yang disebutkannya "lebih aneh dari yang dibayangkan".
Menurut Carey, kendati pun wajah Diponegoro tidak setampan Arjuna, namun wajahnya tampan sebagai orang Jawa.
Tak heran karenanya, terlebih lagi Diponegoro adalah seorang pangeran, banyak wanita cantik yang tertarik dan juga dijadikan isteri dan selir Bandara Pangeran Harya Dipanegara.
Salah seorang anak dari Hamengkubuwono III itu semasa hidupnya memiliki 7 orang isteri dan gundik yang tak terhitung banyaknya.
Pernikahan keduanya dengan Raden Ayu Retnokusumo sempat disebut-sebut sebagai berbau politik karena RA Retnokusumo adalah salah seorang putri dari Raden Tumenggung Notowijoyo III, Bupati Panolan.
Wilayah Panolan adalah wilayah bawahan dari Kesultanan Yogyakarta. Tentunya dengan pernikahan itu Raden Tumenggung Notowijoyo III mendapatkan "fasilitas" karena menjadi besan dari Sultan Hamengkubuwono III.
Di antara para gundiknya ada yang sempat menimbulkan skandal.Â
Gundik yang cukup cantik yang dimaksud mengundang berahi P.F.H Chavelier, Asisten Residen Belanda untuk Yogyakarta.
Chavelier hidup bersama (tanpa nikah) dengan gundik Diponegoro tersebut. Beberapa saat sebelum meletusnya Perang Babad Jawa.