Tanaman teh mulai masuk ke Sri Lanka di tahun 1820 an ketika negara ini dibawah kekuasaan kolonial Inggris, dan mengalami perkembangan yang sangat pesat menjadikan negara ini tercatat sebagai negara pengekspor terbesar dunia di tahun 1960 an.
Teh Sri Lanka dikenal dunia sebagai teh premium dengan rasa dan aroma yang khas karena diproduksi di dataran tinggi ini akhirnya memperoleh reputasi internasional pada 1962 dan menjadikan Sri Lanka sebagai pengekspor teh terbesar di dunia.
Di awal era pengembangan perkebunan teh ini pemerintah kolonial Inggris mengalami masalah karena penduduk setempat Sinhala maupun orang Tamil di Jaffna utara tidak bersedia melakukan pekerjaan berat memetik teh.
Kondisi ini membuat pemerintah Inggris mendatangkan orang Tamil dari India yang bekerja dengan upah kecil atau tanpa upah sebagai imbalan atas perjalanan mereka ke Sri Lanka.
Kombinasi pekerjaan yang sangat berat dengan upah yang rendah ini membuat pekerja teh seperti layaknya budak. Para pemetik teh diharuskan memanen 18 kilogram daun teh hijau setiap hari untuk mendapatkan upah minimum, yang meningkat 70 persen dari Rp 50.000 menjadi Rp 85.000 per hari.
Dengan semakin memburuknya perekonomian Sri Lanka kenaikan upah yang ditetapkan oleh pemerintah ini memuat pengusaha tertekan karena meningkatnya biaya produksi. Krisis keuangan yang sedang berlangsung membuat petani harus membayar lebih untuk bahan bakar dan listrik.
Saat ini Perkebunan teh di Sri Lanka mengalami penurunan produktivitas akibat rendahnya tingkat penggunaan teknologi baru, pertumbuhan produksi yang lambat, meningkatnya kelangkaan tenaga kerja, serta rendahnya keterampilan pekerja telah mengakibatkan rendahnya produktivitas.
Masalah kompleks yang sedang menimpa perkebunan teh di Sri Lanka ini jika dibiarkan tanpa solusi akan semakin memburuk dan bukan tidak mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lamau, reputasi negara ini sebagai pengekspor teh terbesar dunia akan tergeser dan di saat yang bersamaan perekonomian Sri Lanka akan semakin memburuk.
Semoga apa yang terjadi di Sri Lanka ini dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi industri teh Indonesia,
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H