Masalah lambatnya program vaksinasi di kawasan Eropa ini diperparah dengan adanya laporan dari beberapa negara yang telah menggunakannya tentang  terjadinya penggumpalan darah terutama di otak yang membuat beberapa negara menunda penggunaan vaksin jenis ini.
Melihat banyaknya negara yang menunda penggunaan vaksin AstraZeneca membuat badan kesehatan dunia WHO menyatakan bahwa manfaat vaksin ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan efek samping yang dilaporkan.
Kekhawatian WHO ini dapat dimengerti karena jika banyak negara menunda pengunnan vaksin jenis ini maka dikhawatirkan  pandemi ini akan lebih lama diselesaikan.
Pakar epidemiologi menganalisa kekacauan  yang terjadi di kawasan Eropa  ini kemungkinan disebabkan oleh kurang persiapan  dalam melakukan program vaksinasi masal sehingga masalah masalah yang muncul sebelum dan pasca program vaksinasi diluncurkan  terlambat terjadinya dan tidak diantisipasi sebelumnya.
Faktor  ketiga  yang juga menjadi pemicu peningkatan kembali kasus COVID-19 di kawasan Eropa adalah konflik kepentingan antara upaya pengatasi pandemi dengan kepentingan ekonomi.
Banyak dari negara negara di kawasan ini yang lebih memilih melonggarkan peraturan demi membangun ekonominya kembali yang telah terpuruk.
Negara negara di Eropa lebih memilih cara yang reaktif jika dibandingkan dengan cara proaktif karena adanya tuntutan dunia bisnis.
Dengan cara ini di kebanyakan negara Eropa lebih memilih jalan untuk melakukan pembatasan yang sangat ketat ketika terjadi peningkatan kasus di satu wilayah dan menurunkan status pengetatannya jika kasus sudah mulai menurun.
Artinya di kawasan ini tidak dipilih opsi untuk melakukan pemutusan total rantai pandemi ini, sehingga tidak heran kasus COVID-19 di kawasan ini akan terus berfluktuasi.
Dalam situasi seperti ini kasus lonjakan ini diperkirakan tidak akan segera berakhir sampai program vaksinasi tuntas dimana seluruh penduduk di kawasan ini sebagian besar sudah divaksinasi.
Sebagai contoh kasus pengendoran ini terjadi pada masa Paskah yang lalu dimana perusahaan penerbangan Jerman justru menambah frekuensi penerbangannya sebanyak 300 penerbangan ke Mallorca yang berarti Jerman melakukan  pengendoran pengetatan perjalanan  ke wilayah Spanyol.