Mohon tunggu...
Ronny Rachman Noor
Ronny Rachman Noor Mohon Tunggu... Lainnya - Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Harga Daging: Mari Berpikir Rasional

8 Juni 2016   08:05 Diperbarui: 8 Juni 2016   12:21 55
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Harga daging sapi di Australia sebenarnya cukup stabil, namun terasa berat bagi konsumen Indonesia karena melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Australia. Sebagai contoh di era awal tahun 90 an nilai $1 Australia masih setara dengan Rp 3.250. Oleh sebab itu, harga daging impor dari Australia masih relatif terjangkau. Dengan semakin melemahnya nilai rupiah yang saat ini $1 Australia setara dengan Rp 10.000, maka harga daging sapi ini semakin tidak terjangkau.

Artinya jika pemerintah mengimpor daging beku kualitas rendah sampai sedang (secondary cut) maka tidak akan mungkin menjual daging tersebut di bawah Rp. 100 ribu kecuali pemerintah memberikan subsidi terhadap harga daging ini.

Harga jual daging sapi di Australia di pasaran ini sudah termasuk ongkos potong dan distribusi yang cukup tinggi mengingat upah buruh yang tinggi juga.

Dengan tetap mewaspadai masuknya penyakit ke Indonesia dan menggunakan sistem karantina zonasi baik di negara tempat impor maupun di Indonesia, maka Indonesia memungkinkan mengimpor sapi hidup dari negara negara yang tidak bebas dari penyakit mulut dan kuku, seperti misalnya India, Brazil, Argentina dan negara Amerika latin lainnya.

Penerapan sistem penggemukan yang umumnya di lakukan dalam peternakan sapi di negara-negara Amerika Latin seperti Brazil dan Argentina memungkinkan harga daging sapinya dapat bersaing dengan daging dari Australia mengingat pengemukan sapi dilakukan dengan pakan utama dari konsentrat yang komponen utamanya (Jagung, kedele dll) berlimpah di negara tersebut, sehingga masa peliharaan lebih singkat untuk mencapai bobot badan tertentu.

Dengan adanya negara alternatif tempat mengimpor sapi untuk mencukupi kebutuhan nasional dapat dipastikan Australia tidak lagi sebagai satu satunya negara yang berperan besar dalam menetukan harga daging sapi di Indonesia.

Impor sapi hidup memang merupakan pilihan utama

Pola lonjakan permintaan daging seharusnya sudah dapat diantisipasi oleh pihak yang terkait mengingat kejadian lonjakan harga daging pada masa tertentu sudah rutin terjadi. Impor daging beku bersubsidi dan dijual dalam bentuk operasi pasar bukanlah merupakan solusi jangka panjang.

Pengendalian harga daging oleh pemerintah bukanlah merupakan sesuatu yang tabu untuk dilakukan mengingat daging sudah menyangkut kehidupan masyarakat banyak terutama untuk memenuhi kebutuhan daging pada hari besar. Oleh sebab itu, pihak berwenang seperti misalnya Bulog dapat membuat BUMN yang khusus bergerak dalam usaha sapi dalam skala besar dengan tujuan mengendalikan harga pasar. Keberadaan BUMN besar yang bergerak dalam usaha sapi diharapkan dapat menjadi penyeimbang harga yang selama ini ditentukan oleh perusahan swasta yang terlibat dalam importasi ternak.

Aturan yang ada saat ini yang sebenarnya mengharuskan pihak pengimpor untuk memelihara sapi impornya sampai batas waktu tertentu dinilai masih memadai. Melalui impor sapi hidup subsidi yang harus disediakan oleh pemerintah menjadi berkurang mengingat bagian tubuh sapi lainnya seperti jeroan, kulit, buntut, kepala dll yang di Australia tidak boleh dijual umum di pasaran dapat menutupi rataan daging sapi yang dijual. Bagian daging premium seperti, sirloin dan daging mata rusuk ke 12 dll masih dapat dijual untuk keperluan restoran mewah, hotel dll.

Subsidi silang harga antara bagian bagian tubuh sapi impor inilah yang diharapkan dapat menjaga agar perusahan tidak rugi jika diminta oleh pemeritah untuk memenuhi batas harga juar tertentu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun