Mohon tunggu...
Intan Rosmadewi
Intan Rosmadewi Mohon Tunggu... Guru SMP - Pengajar

Pengajar, Kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain ; sesungguhnya adalah kebaikan untuk diri kita sendiri QS. Isra' ( 17 ) : 7

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Menggunakan Produk Kosmetik Bersertifikasi Halal Menenangkan Jiwa

10 Januari 2018   23:40 Diperbarui: 10 Januari 2018   23:46 1309
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ada satu masa yang telah penulis lewati yaitu rutin   berinai (memakai pemerah kuku)  dengan herbal yang bernama daun pacar kuku,  jenis tumbuhan yang konon berasal dari Afrika Timur Laut dan Asia Barat Daya ini di campur kapur sirih dan semut beberapa ekor kemudian kami tumbuk dengan perasaan riang tanpa beban dan tidak sedikitpun merasa berdosa membunuh beberapa ekor semut.

Semut menurut Aki dan Nini (Kakek dan Nenek, bhs. Sunda)  menambah efek merah yang lebih sempurna.  Rasanya memang benar apa yang dikatakan mereka berdua,  karena sempat  suatu ketika penulis  menumbuk daun pacar kuku tanpa semut juga tidak menambahkan kapur sirih dalam adonan pemerah kuku warnanya pucat kurang memuaskan.

Setelah berinai dan jika memperoleh  hasil yang memuaskan menimbulkan efek senang dan bahagia menyaksikan kuku – kuku berwarna sedemikian cerah, itu saja selain merasa tampilan lebih elok dengan warna kuku yang berubah tidak monoton tidak menghalangi dalam beribadah khususnya shalat lima waktu.

Mempercantik kuku secara tradisional di sekitar 1970 –an yang kami lakukan di wilayah Jawa – Barat  adalah bagian dari mempercantik diri bahkan jika menelusuri sejarah kebudayaan  kaum perempuan di dunia terasa cukup ekstrim juga saat kotoran buaya di gunakan secara tradisi berguna untuk menghambat proses penuaan kulit (anti aging),  hal ini menjadi kebiasaan kaum perempuan pada masyarakat Yunani kuno.

Sedangkan kaum perempuan Iran masa kuno mereka terbiasa menggunakan   darah sapi dicampur berudu dan daun pacar untuk mewarnai rambut,  prosesi mewarnai rambut ini merupakan  budaya penduduk setempat,  termasuk juga ada kebiasaan aneh  para   Geisha di Jepang masa abad pertengahan memakai kotoran burung dicampur adonan tepung beras untuk memutihkan kulit wajah.

Akan lebih menyeramkan lagi jika kita bisa menelusuri kisah placenta sebagai bahan berkhasiat  diantaranya sebagai anti aging.

pict : kompasiana
pict : kompasiana
Flacenta Bahan Kosmetik Unggulan

Setahun yang lalu penulis sempat berjumpa dengan dr. Diana sebagai konsultan  produk dari kosmetik halal Mazaya beliau menjadi  salah seorang nara sumber yang membahas tentang pentingnya sertifikasi dan kosmetik halal bagi muslimah di Indonesia. 

Dari dr. Diana penulis mendapat info dan pertama kali mengetahui bahwa placenta atau ari – ari bayi bisa dibuat sebagai ekstrak placenta, menyimak penjelasannya rasanya sebagai seorang yang beragama merinding mendengar penuturan tentang hal ini :

Ekstrak placenta yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan berbagai jenis kosmetik kecantikan seperti cream regenerasi dalam terapi anti aging ; placenta diaplikasikan sebagai faktor eksogenik untuk menstimulir regenerasi sel, sehingga menghasilkan fungsi kulit yang diinginkan yaitu kulit muda belia.

Dalam dunia digital seperti saat ini begitu mudah untuk menemukan informasi apapun termasuk bahasan tentang placenta yang tengah menjadi sorotan penulis kali ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun