“ Maksud bapak?” tanyaku dengan tangan gemetar. Kuturunkan tanganku dari atas meja.
“ Suami ibu kecelakaan waktu menyeberang jalan.” Ulangnya dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih.
Aku tidak sadar kalau tengah hamil tujuh bulan. Dengan cepat aku berlari keluar. Aku lupa akan Iyan. Yang kuingat hanya suamiku. Mengapa dia tiba-tiba menyeberang jalan? Bukankah tadi dia hanya berdiri di depan warung? Pertanyaan itu memenuhi pikiranku.
Istri pemilik warung langsung merangkulku begitu aku berdiri dipinggir jalan. Dia bersama pelayan wanita memapahku menuju mobil polisi yang sudah ada. Suara sirine dan klakson mobil yang bersahutan karena macet makin membuat kepalaku berkunang-kunang.
Dalam langkahku yang lemah, aku terus berdoa. Semoga bukan suamiku yang kecelakaan. Kalaupun kecelakaan, setidaknya keadaannya tidak parah apalagi sampai meninggal.
Tapi aku hanya bisa berdiri kaku saat kulihat tubuh yang bersimbah darah terbaring di dalam ambulance adalah benar suamiku. Aku bahkan tak sempat meneteskan air mata. Tubuh suamiku diam tak bergerak. Seketika tubuhku limbung. Tak ada lagi yang kuingat. Semuanya gelap.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H