Mohon tunggu...
Rio Nahak
Rio Nahak Mohon Tunggu... Mahasiswa - Iioo

Nyong hitam manis dari kota karang, Kupang. Kini menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, program studi Filsafat Keilahian. Akun Ig @iyoo_nk

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Konsep Kejahatan dan Penderitaan Menurut Leibniz

30 Juni 2021   13:21 Diperbarui: 30 Juni 2021   14:19 799
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Allah dari hakekatnya adalah baik. Ia menciptakan manusia dari segala sesuatu yang menjamin kebutuhan hidupnya di dunia. Namun kebaikan Allah sering di salah gunakan oleh manusia. 

Jika berhadapan dengan kejahatan, penderitaan dan dosa, manusia tidak sadar akan kebaikan Allah. Penderitaan membuat manusia tidak hidup bahagia. Ada kejahatan dan penderitaan yang seringkali dialami oleh manusia dalam hal ini ada kejahatan fisik, kejahatan moral maupun kejahatan metafisik. Manusia sering dilemma dalam menghadapi kehidupannya. 

Sebab ia hidup dalam suatu dunia yang sedang mengalami ambigutasi moral, namun disatu sisi manusia memiliki banyak momen yang menyenangkan, bahkan menggembirakan dalam perjalanan hidupnya, di pihak lain manusia juga manusia juga mengalami ketidakbahagiaan dan penderitaan dalam dunia yang sama. Ada penderitaan yang tak terperikan, kemiskinan, rasa sakit yang mengerikan, tindakan-tindakan irasional seperti kekerasan dan penganiayaan, serta ancaman akan kematian yang dating secara mendadak.

Konsep tentang Kejahatan

Kejahatan merupakan sesuatu yang menghancurkan hidup manusia. Kejahatan seringkali mereduksi kemanusiaan manusia. Agustinus mendefenisikan keburukan dan kejahatan sebagai keadaan yang merugikan kehidupan manusia, malum est id quod nocet (keburukan atau kejahatan adalah apa yang merugikan). 

Dalam kaitan dengan penderitaan kita dapat mengatakan bahwa kejahatan adalah sesuatu yang menyebabkan orang merasa menderita. Kejahatan merugikan kita. Kejahatan pula yang membuat kita merasa adanya kekurangan dan sesuatu yang mesti ada. Kejahatan atau malum kontras dengan kebahagiaan atau bonum. Bonum adalah sesuatu yang selalu di cari manusia dalam dunia ini. Bonum juga sesuatu yang menggembirakan manusia.

Leibniz membagi kejahatan dalam tiga bagian. Pertama kejahatan metafisik adalah keburukan yang melampaui penejlasan fisik dan moral. Keburukan yang mempunyai akar ontologis, yakni yang terletak pada unsur dasar keterbatasan manusia dan dunia serta pada ketidakkekalan manusia; bahwa manusia itu fana, akan mati; bahwa manusia bisa keliru dan melakukan kesalahan. Kejahatan metafisik sulit di hindari manusia, karena manusia adalah makluk terbatas dan tidak sempurna seperti penciptanya. 

Manusia mau-tidak mau menerimanya. Kematian merupakan konsekuensi dari manusia sebagai makhluk yang berbadan dan ber-roh. Manusia tidak dapat hidup abadi seperti penciptanya. Ia tunduk pada kekuasaan penciptaanya. Situasi batas ini tidak diinginkan manusia tetapi manusia toh tidak dapat menghindar dari kenyataan ini. Kematian merupakan keburukan yang menghancurkan manusia dan merupakan konsekuensi dari eksistensi manusia sebagai makhluk yang terbatas.

Kedua kejahatan fisik merupakan kejahatan alamiah, yang terletak pada kenyataan negatif yang dialami oleh manusia. Misalnya persoalan berbagai penyakit, berbagai bentuk kecatatan. Keburukan fisik ini sering dikehendaki Allah dan sebagai hukuman atas kesalahan dan sering sebagai sarana yang sesui untuk satu tujuan, yaitu untuk menghalangi keburukan-keburukan lebih besar keburukan fisik ini dapat juga terjadi karena kelalaian manusia sendiri misalnya terjadinya tanah longsor karena manusia menebang pohon di hutan. Sama juga dengan fisik manusia, tentu harus dijaga agar terhindar dari segala penyakit dan kecacatan.

Ketiga, keburukan moral adalah dosa yang dilakukan manusia yang tidak mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Keburukan moral sering tejadi antara manusia dengan manusia dalam hal ini ketidakadilan, kekerasan, dan penindasan. Kejahatan ini sering terjadi dalam kehidupan manusia karena manusia menjadi serigala bagi yang lain, homo homoni lupus. Keburukan ini dibuat oleh manusia sendiri.

Ketiga kejahatan di atas yang mewarnai kehidapan manusia. Manusia kadang tidak dapat menghindari kejahatan tersebut. Kejahatan tersebutlah yang menyebabkan manusia menderita. Munculnya kejahatan atau keburukan menurut Leibniz adalah akibat langsung penyalahgunaan kebebasan manusia. Allah menciptakan manusia dengan kebebasannya. Allah tidak mengehendakai kejahatan tetapi Ia membiarkan dosa atau kejahatan, agar manusia tetap bebas. Allah mencintai manusia dan melarang tindakan kejahatan apapun. Namun, manusia adalah bebas.

Konsep tentang Penderitaan

Salah satu akibat dari keburukan adalah penderitaan. Penderitaan merupakan situasi batas di mana manusia tidak dapat memeneuhi cita-cita hidupnya yang sudah dialami dan yang dianggap sebagai hak dan kewajibannya. Penderitaan hanya dialami oleh makhluk yang merasa sakit terutama manusia. Dengan kata lain penderitaan hanya dialami oleh ciptaan sedangkan pencipta bebas dari penderitaan. Penderitaan merupakan bukti keterbatasan manusia sebagai makhluk yang berbadan dan ber-roh.

Penderitaan adalah apa yang dialami subyek karena adanya malum. Kemampuan menderitaan semakin meningkat dalam perjalanan evolusi kehidupan dan organisme, bersamaan dengan kian bertambahnya kompleksitas struktur syaraf. Banyak manusia dan hewan yang menderita secara fisik. Pada manusia dan sejumlah hewan, kesanggupan menderita mencakupi wilayah pengalaman yang lebih luasa. Mereka tidak hanya menderita karena kekurangan tertentu, melainkan karena perasaan lain yang lebih kompleks, seperti ketakutan, kepanikan, kesedihan. Selain itu juga penderitaan yang dialami manusia karena direndahkan, rasa malu, kejengkelan, keputusasaan, ketiadaan pegangan hidup, penghinaan moral, kesalahan, dan juga ketakutan akan kematian.

Selain itu juga penderitaan dapat terjadi karena ketidakadilan, tekanan, kekerasan, atau karena kehilangan sesuatu yang berarti misalnya: kesehatan, harta benda, harga diri, manuisa lain atau orang dekat. Kita sering secara spontan bertanya: bagaimana Allah dapat mengizinkan sesuatu seperti itu terjadi? Misalnya terjadi gempa, tsunami dan tanah longsor yang merenggut nyawa ribuan orang, termasuk di dalamnya sahabat, kenalan dan keluarga dekat kita.

Leibniz menekankan bahwa adanya penderitaan di dunia karena manusia menyalahgunakan kebebasanya, tidak semuanya benar. Sebab ada kejahatan metafisik, di luar kontrol manusia. Misalnya tsunami dan gempa bumi atau juga letusan gunung berapi. Kenyataannya bahwa bencana alam di atas seringkali mendatangkan penderitaan bagi manusia. Lalua muncul pertanyaan siapakah yang bertanggung jawab dalam hal ini? Apakah manusia yang salah di sini karena ia menyalahgunakan kebebasannya? 

Menurut Paul Budi Kleden, dalam seminar teologi penderitaan dalam agama-agama, bahwa sebagai pencipta Allah tetap bertanggung jawab dalam penderitaan manusia yang diakibatkan bencana alam seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi serta tsunami. Allah mempunyai caranya sendiri untuk menyelamatkan manusia. Seperti memberi kemampuan kepada manusia untuk mendeteksi terjadinya bencana tersebut.

Kesimpulan

Tuhan itu maha sempurna. Tuhan selalu bertindak baik. Segala hal yang berasal dari Tuhan sesuai dengan kebaikan, keadilan, dan kesucian. Tuhan merupakan dasar akhir dari segala sesuatu. Segala sesuatu yang ada sesuai dengan kebaikan, keadilan, dan kesucian Tuhan. Semua penderitaan dan dosa adalah tidak baik. Karena itu seharusnya tidak ada.

Kalau dipikirkan secara mendalam Allah tidak menghendaki manusia menderita. Allah justeru sangat mencintai manusia, bahkan Ia juga rela menderita sebagaimana yang terwujud dalam diri Yesus. Allah menderita bukan untuk melegitimasi penderitaan manusia tetapi agar manusia sadar bahwa di balik penderitaan ada kebahagiaan, agar manusia berusaha mengatasi penderitaannya bersama dengan Tuhan yang menderita.

Referensi

Ceufin, Frans. Sejarah Pemikiran Modern. Maumere: Ledalero, 2004

Kleden, Paul Budi. Membongkar Derita. Maumere: Ledalero, 2006.

Tjahjadi, Simon Petrus L. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius, 223.

Penulis: Bernadinus Jansen Tampani

(Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun