Seperti yang saya jelaskan pada bagian di atas, terkadang adrenaline rush yang saya alami dapat menimbulkan gagasan terbaik ketika saya berada di bawah tekanan. Terkadang, lho, tidak selalu. Begitu deadline terlampaui dan ide yang diperoleh dalam keadaan mepet itu bisa dieksekusi, entah mengapa saya menganggapnya sebagai sebuah keberhasilan.
Aneh, ya? Padahal seperti adrenaline rush yang muncul dan hilang tanpa dapat dikendalikan, gagasan terbaik atau apa pun yang diakibatkan oleh adrenaline rush dapat muncul dan hilang tanpa dapat diprediksi juga. Jika itu terjadi, maka lebih tepat saya menyebutnya sebagai sebuah kebetulan, dan bukan sebuah keberhasilan.
Keberhasilan demi keberhasilan yang diperoleh dalam keadaan under pressure itu melenakan dan menyesatkan. Saya menduga, poin nomor 3 ini adalah penyebab utama saya terus menjadi deadliner garis keras.
Setiap kali saya berhasil menyelesaikan sebuah tugas mepet tenggat waktu, saya menyelamati diri sendiri dan berpikir bahwa tidak ada yang mustahil. Begitu deadline berikutnya mendekati, saya akan terkenang-kenang akan keberhasilan yang semu itu dan mengulangi kesalahan yang sama: tidak segera memulai karena skala prioritas saya berantakan dan sikap perfeksionis saya berlebihan.
Untuk meniadakan poin nomor 3 ini saya harus kembali ke poin nomor 1 dan kemudian nomor 2. Mengapa tidak sebaliknya? Sikap perfeksionis saya mungkin berlebihan, tapi dia dapat dengan mudah dikalahkan oleh skala prioritas. Ketika skala prioritas memberi aba-aba waktunya mengerjakan sebuah tugas, saya harus mengabaikan ambisi saya untuk mulai bekerja di tengah kondisi ideal. Yang namanya deadline memiliki natur yang tidak fleksibel dan tidak ada pekerjaan yang dapat selesai kalau saya tidak memaksa diri menyelesaikannya.
Sebagai penutup, izinkan saya bertanya lagi: apakah kamu seorang deadliner? Apa kamu suka bekerja mepet tenggat waktu? Adakah hal yang kamu ingin ubah dari caramu menyelesaikan tugas-tugas? Share di kolom komentar, yuk.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H