Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... Penulis - PENULIS
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Roh

11 Juli 2019   12:47 Diperbarui: 11 Juli 2019   14:43 333
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber ilustrasi: pixabay

Nama saya Rohman, orang sering memanggil Roh. Sebulan setelah dokter angkat tangan atas penyakit ayah, dia memanggil saya ke kamarnya. "Mencari penghidupan itu mudah, hanya memindahkan uang dari kantong orang ke kantong kita. Ayah mohon kau jaga ibu." Besok akhirnya dia menghembuskan napas terakhir.

Umur saya saat itu baru empat tahun. Dapat kau pahami betapa ucapan ayah sangat tak dapat saya cerna. Otak saya kecil. Perputaran hanya untuk bermain dan bermain. Sampai umur sembilan belas tahun, saya sama sekali belum pasti, apakah makna ucapan ayah di penghujung usianya itu. Saya hanya menerjemahkan "memindahkan uang dari kantong orang ke kantong kita" itu artinya mencopet. Dan itulah pekerjaan saya sekarang di Pasar 16 Ilir. Sesekali mencopet juga di bis kota.

Sejak bis Trans Musi beroperasi, lahan copet di bis kota semakin berkurang. Berbahaya mencopet di bis keren itu. Yang ada selain mendapat bogem dari penumpang, sudah pasti ubin penjara yang dingin akan bersorak menyambut saya. Trans Musi memiliki pintu otomatis yang tertutup. Dia hanya membuka ketika berhenti di halte. Dan kesempatan saya mencopet pasti amat kecil.

Saya biasa bekerja sama dengan awak bis kota. Tapi sekali lagi itu dulu. Jangan harap pula saya bisa merayu mereka agar prosesi mencopet aman terkendali. Awak Trans Musi tak berminat dengan pekerjaan ecek-ecek. Mereka awak bis kelas atas dan bergaji bulanan.

Oh, ya, sebelum lupa, saya perlu menjelaskan mengapa saya di panggil Roh. Mutlak karena saya beroperasi selalu sendiri. Saya ingin memutuskan sendiri tanpa celoteh orang lain, apakah saya harus mencopet seseorang atau tidak. Atau saya kasihan dan memberi bakal korban saya uang. Satu orang satu roh. Mustahil dalam tubuh ada dua roh, karena akan sulit mengaturnya.

Mengenai penghidupan saya, setiap orang tentu butuh peningkatan, atau kata orang-orang jenjang karier. Bukan berarti saya berpindah profesi menjadi pedagang sayur sambilan mencopet. Jujur, saya ingin merampok rumah. Sendirian!

Saya sudah memata-matai rumah gedong berwarna hijau bolu pandan itu selama sebulan. Tempatnya di ujung lorong, menempel dengan tembok pembatas. Sepertinya di situ retak tangan saya.

Jarak satu rumah dengan rumah lain hampir tiga ratus meter. Pasti tetangga tak akan mendengar jeritan korban sampai aku melenggang-kangkung membawa harta rampokan. Satu lagi saya beritahu. Penghuni rumah gedong itu sepasang senja. Orang tua yang rata-rata berusia di atas enam puluh tahun. Juga beberapa anak-anak kecil. Begitulah kira-kira. Setiap beroperasi, saya selalu membuat rencana sangat matang. Lima tahun mencopet, pantat saya baru sekali mencium dinginnya ubin penjara.

Salah saya terpedaya korban cantik dan seksi, sehingga saya berhasil ditangkap. Oleh suaminya beserta pengunjung pasar. Juga beberapa pencopet yang saya kenal. Pukulan dan tendangan yang paling keras, saya pastikan kawanan pencopet, sebab tercium dari napasnya bau Aibon. Satu lagi keteledoran saya. Ternyata suami korban seorang berpangkat di kepolisian. Jadilah hukuman yang saya terima---selain tahanan tentunya---juga tendangan dan sundutan rokok.

Mari kita kembali ke rencana awal. Sekarang saya sudah berada di halaman luas rumah gedong itu. Saya sudah menyiapkan sebatang linggis, juga pisau cap garpu yang sewaktu-waktu harus menyalak bila terdesak. Saya naik dari pohon belakang rumah gedong, lalu naik ke tembok pembatas. Naik pula lewat jendela tingkat dua. Saya dengan mudah mencongkel jendela. Hap, saya bisa melompat dengan aman ke lantai. Nyaris tanpa suara.

"Oh, ada tamu rupanya." Tiba-tiba ada suara menyentak nyali saya. Belum apa-apa, saya sudah tertangkap. Tentu kali ini saya akan lama merasakan ubin penjara. Saya melihat lelaki senja berdiri dari atas sajadah. Melipat, lalu meletakkannya ke sebuah rak. Dia mungkin baru selesai shalat malam. Saya perkirakan waktu itu pukul satu dini hari.

Perlahan saya meraba si garpu yang menyelip di pinggang. Saya tak tega berbuat nekat. Prinsip saya, tak baik melawan si senja itu. Memalukan! Lagi pula saya selalu luluh menghadapi orang yang selesai shalat. Pernah kawan sesama pencopet beroperasi di sekitaran masjid  seusai Shalat Jum'at. Saya langsung menyarangkan si garpu ke pingangnya. Melawan sedikit, ujung si garpu akan mengoyak kulit ari. Dia pun berlalu tunggang-langgang. Jangankan si garpu, mencari masalah dengan saya saja lebih tak berani.

Saya pernah dikapak seseorang di pasar. Tapi bukan kepala saya yang modar, melainkan kapak itu yang patah. Orang langsung mengira saya mempunyai ilmu kebal. Padahal tidak sama sekali. Pertama, karena saya yakin gagang kapak sudah lapuk. Kedua, karena jari manis tangan kanan saya berhiaskan cincin suasa besar dan bermata amat besar peninggalan mendiang ayah. Ketiga, dan yang paling utama karena Tuhan telah melindungi saya.

Saya masih duduk mencangkung ketika si senja mengajak saya ke dapur. Baginya tamu adalah raja. Di lorong menuju dapur, saya bertemu---mungkin---istrinya. Dia menatap saya heran. Lakinya itu menjelaskan, bahwa saya ini temannya. Saya penjaga malam yang kebetulan kelaparan.

Saya kehilangan nyali merampok sama sekali. Mungkin karena saya hanya memiliki nyali mencopet. Satu lagi, entah kenapa pelaku kejahatan akan melemah ketika menemukan korban yang sangat tenang. Berbeda jika korban melawan, nyawa pun bisa diambil paksa.

Saya benar-benar seperti raja. Dia menyiapkan di meja dapur secangkir besar teh, juga beberapa potong martabak manis. Dia bercerita banyak saat saya menikmati juadah itu. Saya sendiri sampai lupa bahwa saya pencopet wahid di Pasar 16 Ilir.  Bahkan ketika saya bersendawa karena lumayan kenyang, Pak Rofiq---si senja itu---menyuruh saya menginap di rumahnya hingga shubuh. Saya terpaksa ikutan Shalat Shubuh berjamaah bersama lima orang anak kecil sepantaran. Mungkin sekitar sepuluh tahunan.

Saya bingung sesenja itu Pak Rofiq masih mempunyai anak, malahan kembar lima. Belakangan saya tahu Pak Rofiq tak memiliki anak. Mereka semua adalah anak yatim piatu yang dipeliharanya.

"Mas, eh siapa namamu?" tanya Pak Rofiq menjelang jam enam pagi, saat saya bermaksud permisi pulang.

"Rohman, Pak."

"Kamu bisa jaga anak-anak sampai sore nggak? Soalnya aku dan ibu harus ke kondangan di dusun. Mungkin baru sampai  di Palembang selewat isya. Tolong, ya?"

Saya sebenarnya ingin menolak. Tapi ketika orang sudah memakai kata "tolong", saya cenderung melemah.

"Kamu bisa masak nggak?" Pak Rofiq cengengesan. "O, iya aku lupa kau bukan perempuan."

"Bisa," kata saya cepat. Semenjak ditinggal ayah, saya selalu membantu ibu di dapur. Saat menjadi pencopet, sayalah yang memasak untuk kami berdua, bertiga, berempat, bahkan bersepuluh. Teman-teman sesama pencopet sering bergabung makan karena mereka kangen cita rasa masakan saya.

Ternyata cita rasa masakan saya, membuat lima anak yatim piatu berkali-kali mengacungkan jempol. Pak Rofiq juga berdecak kagum ketika dia sudah pulang dan mencicipi masakan itu. "Ini bukan beli di luar, kan?" selorohnya.

Kau tahu, sejak saat itu aku sering ditelepon mereka hanya karena kangen cita rasa masakan saya. Dan itulah yang akhirnya merubah retak tangan saya, manakala Pak Rofik membuka warung makanannya yang sudah tahunan vakum. Semua modal dia yang siapkan, saya hanya tinggal memasak.

Saya lambat-laun tak bisa mencopet lagi, karena pelanggan banyak. Teman-teman saya ajak bekerja dengan saya karena tak sanggup meladeni pembeli, apalagi warung makan saya sudah menjadi restoran kecil. Sekarang saya sudah memiliki nyaris sepuluh cabang. Nyaris pula seluruh pekerjanya adalah mantan pencopet. Sampai sekarang tak ada yang tahu apa makna nama restoran-restoran kecil saya; Warung Makan Bu Pet. Keren kan namanya? Bu Pet kepanjangan dari bukan pencopet. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Bisa-bisa saya didemo pelanggan.

Sekarang saya baru tahu apa makna perkataan bapak puluhan tahun lalu; "mencari penghidupan mudah, hanya memindahkan uang dari kantong orang ke kantong kita". Tapi tentu saja orang itu dengan senang hati memasukkan uangnya ke kantong kita.  Meski yang saya lakukan hanya sepele; menyenangkan perut mereka.

-----sekian----

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun