"Bisa," kata saya cepat. Semenjak ditinggal ayah, saya selalu membantu ibu di dapur. Saat menjadi pencopet, sayalah yang memasak untuk kami berdua, bertiga, berempat, bahkan bersepuluh. Teman-teman sesama pencopet sering bergabung makan karena mereka kangen cita rasa masakan saya.
Ternyata cita rasa masakan saya, membuat lima anak yatim piatu berkali-kali mengacungkan jempol. Pak Rofiq juga berdecak kagum ketika dia sudah pulang dan mencicipi masakan itu. "Ini bukan beli di luar, kan?" selorohnya.
Kau tahu, sejak saat itu aku sering ditelepon mereka hanya karena kangen cita rasa masakan saya. Dan itulah yang akhirnya merubah retak tangan saya, manakala Pak Rofik membuka warung makanannya yang sudah tahunan vakum. Semua modal dia yang siapkan, saya hanya tinggal memasak.
Saya lambat-laun tak bisa mencopet lagi, karena pelanggan banyak. Teman-teman saya ajak bekerja dengan saya karena tak sanggup meladeni pembeli, apalagi warung makan saya sudah menjadi restoran kecil. Sekarang saya sudah memiliki nyaris sepuluh cabang. Nyaris pula seluruh pekerjanya adalah mantan pencopet. Sampai sekarang tak ada yang tahu apa makna nama restoran-restoran kecil saya; Warung Makan Bu Pet. Keren kan namanya? Bu Pet kepanjangan dari bukan pencopet. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Bisa-bisa saya didemo pelanggan.
Sekarang saya baru tahu apa makna perkataan bapak puluhan tahun lalu; "mencari penghidupan mudah, hanya memindahkan uang dari kantong orang ke kantong kita". Tapi tentu saja orang itu dengan senang hati memasukkan uangnya ke kantong kita. Â Meski yang saya lakukan hanya sepele; menyenangkan perut mereka.
-----sekian----
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI