Rini pun turut menangis. Entah menangis karena murni musibah atau karena himpitan masalah rumah tangganya. Siapa yang tahu. Mata memandang pasti membenarkan hati bahwa ia menangis karena prihatin dan sedih atas musibah ibu muda itu.
Beratnya cobaan hidup yang akan ia hadang ke depan bersama ibu suaminya dan keempat anaknya. Bagaimana masa depan mereka.Â
Siapa dan  tangan mana yang akan terulur meringankan bebannya.
Suara ambulan pun meraung menyayat hati. Empat pria muda berseragam putih turun. Mereka mengangkat tandu rumah sakit itu.
"Kita bawa ke Padang ya Bu. Suami ibu, denyut nadinya masih ada." Kata salah seorang dari mereka memberi harapan.
Semua mendadak sunyi. Anak-anak tak menangis lagi. Rini dan ibu muda itupun saling merenggangkan diri. Nenek di sudut sisa rumah terbakar pun mendekat dipapah kepala.
Semua bergerak mendekati tandu dan ambulan. Susi dan ibu muda naik ke ambulan. Rini dan yang lain memapah nenek ke bus sekolah. Terlihat Bu Rita  berbisik kepada ibu muda. Ia pun mengangguk.
Anak-anak pun diintruksikan Bu Rita untuk dinaikkan ke bus sekolah. Jadilah Rini memangku si bungsu. Dua lagi dipangku Mita dan Dini.
Rekan Rini bernama Rudi terpaksa berdiri karena si nenek lebih butuh.
"Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak," kata kepala memulai pidatonya  di bus.Â
Di bus memang sedia karaoke jika guru-guru melakukan perjalanan. Menghibur diri kata Pak Man salah satu guru Seni Budaya di sekolah Rini mengabdi.
Nenek dan Ananda bertiga harus sabar. Ini musibah. Tak ada di antara kita yang menginginkan. Semua atas izin Allah. Ada hikmah di balik musibah. Kita saat ini belum tahu hikmahnya apa. Suatu hari pasti akan kita jumpai hikmah itu. Jadi sabarlah.