Mohon tunggu...
Reynal Prasetya
Reynal Prasetya Mohon Tunggu... Penulis - Broadcaster yang hobi menulis.

Penyuka Psikologi, Sains, Politik dan Filsafat yang tiba - tiba banting stir jadi penulis Fiksi. Cerita-cerita saya bisa dibaca di GoodNovel: Reynal Prasetya. Kwikku: Reynal Prasetya

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Carilah Pasangan Hidup yang "Adanya Apa?" Bukan "Apa Adanya"

26 April 2020   09:26 Diperbarui: 27 April 2020   11:16 4373
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar Ilustrasi menolak pemberian. (Sumber: depositphotos via kompas.com)

Kira-kira seberapa sering anda menemukan atau di kirimi oleh teman quotes-quotes manis seperti ini?.

Jangan mengubah dirimu hanya karena ingin dicinta. Jika dia tak bisa menerima mu apa adanya, temukan seseorang yang bisa.

Semua standar dalam memilih pasangan akan hilang ketika jatuh cinta.

Karena yang bersedia menemani mu dari nol itulah yang patut diperjuangkan

Terus terang quotes-quotes tersebut begitu manis, indah nan lembut terdengar ditelinga, namun bila kita terlalu merenunginya dalam-dalam, sehingga tanpa sadar pesan tersebut masuk ke alam bawah sadar, efeknya bisa sangat merugikan bahkan melemahkan diri sendiri.

Kenapa saya sampai berani berargumen demikian? Karena realitanya, tidak akan pernah ada orang yang benar-benar bersedia menerima diri kita apa adanya.

Karena realitanya, tidak akan pernah ada orang yang benar-benar bersedia menemani kita berjuang dari nol!

Bila di tilik dengan seksama, quotes-quotes semacam itu memang terkesan masuk akal, seakan-akan memotivasi, membangkitkan, menyembuhkan, namun ketika anda meneguknya terlalu banyak, anda bisa menjadi over dosis, sehingga berubah menjadi sosok bucin atau apa yang orang bilang sebagai budak cinta.

Kalau sudah jadi bucin, biasanya anda akan mengalami efek micin. Apa itu micin? Ya, migren cinta. Akibat pening terlalu memikirkan masalah romansa, pikiran menjadi kalut karena tertutup oleh kabut biokimia.

Tidak mudah untuk menerima kenyataan ini, karena saya sendiri pernah mengalami betapa sulitnya keluar dari illusi tersebut.

Semenjak lima tahun yang lalu, saya terlalu percaya bahwa cinta bisa merubah semuanya, terlalu percaya bahwa cinta bisa merubah kebiasaan buruk pasangan, terlalu percaya bahwa cinta dan ketulusan perlahan-lahan bisa meluluhkan hati pasangan, namun nyatanya, bak air susu dibalas air tuba, cinta tulus suci itu hancur, jatuh berkeping-keping, berserakan tak bersisa.

Memang diera modern seperti sekarang ini, pelan-pelan relasi dan budaya cinta mulai berubah begitu cepat, mempengaruhi pikiran kita. Sehingga banyak orang yang tidak sadarkan diri, memulai dan memutuskan melekatkan diri dalam ikatan pernikahan tanpa pertimbangan yang matang, sehingga pernikahan yang di gadang-gadang bisa membuat keduanya bahagia justru berakhir dalam malapetaka.

Semua bisa terjadi akibat terlalu banyaknya remaja (milenial) yang kurang persiapan, tidak belajar soal relasi cinta dengan tepat. Kita enggan belajar berlogika, padahal edukasi pra nikah benar-benar penting dan krusial bagi kelangsungan hubungan jangka panjang.

Selama ini, kita hanya mengandalkan film-film, lirik-lirik lagu, sinetron, kutipan bijak, kata-kata galau, rayuan gombal picisan, yang mengakibatkan mental dan kecerdasan kita berkurang dan menjadi lemah dalam mengelola hubungan. 

Ketidakdewasaan dan kepolosan kita dalam memandang relasi cinta menjadi sebab mengapa seringkali kita gagal membina dan merawat suatu hubungan, baik itu dalam masa pacaran ataupun pernikahan.

Remaja saat ini begitu rentan terhadap perceraian, karena mereka menganggap menikah adalah sebuah trend, sebuah mesin generator kebahagiaan.

Padahal dalam prakteknya, kita melihat pernikahan adalah sebuah kerjasama, artinya ketika kita memutuskan untuk menikah, saat itu juga kita memutuskan untuk bersedia bekerjasama dengan pasangan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Bukan untuk sekedar happy-happy, bukan untuk sekedar memuaskan hasrat kesepian, atau mengobati kesedihan. 

Jika pasangan adalah rekan kerja, jadi sangat masuk akal bila kita mencari sosok pasangan yang benar-benar kompatibel, berpengalaman dan mampu di ajak bekerjasama. Bukan mencari pasangan yang asal-asalan, bermasalah dan apa adanya.

Ketika pada saat berbelanja sesuatu, seperti sepatu, baju atau tas misalnya, kita sampai rela menghabiskan waktu untuk pilih-pilih membandingkan satu produk dengan produk lain, demi menemukan produk yang paling berkualitas, kenapa tidak kita lakukan juga pada saat sedang mencari pasangan?.

Bila anda mendengarkan nasehat leluhur orang tua jaman dulu, anda mungkin masih ingat kan dengan istilah "Bibit, bebet, bobot"?.

Orangtua jaman dulu pun paham dan mengerti betul, menikah bukanlah suatu proyek yang main-main, dimana segala sesuatunya harus diperhitungkan terutama dalam memilih pasangan.

Kita bisa melihat kakek nenek, generasi kita jaman dulu, mereka tidak terlalu mementingkan aspek cinta, dulu orang-orang jaman dulu terbiasa memandang cinta dari sisi logika.

Mereka justru tidak terlalu mempermasalahkan apakah mereka saling mencintai atau tidak, mereka hanya mementingkan apakah calon pasangannya cukup kompatibel atau tidak untuk diajak menikah.

Misalnya yang mereka lihat adalah dari segi status ekonominya, keagamaan nya, status sosialnya, keturunannya, atau apa yang mereka sebut sebagai bibit, bebet, bobot itu.

Lalu apakah setelah pernikahan itu, mereka menjadi sia-sia karena tidak mementingkan aspek cinta?

Tentu tidak! Justru rasa cinta itu akan muncul dengan sendirinya seiring kerjasama yang mereka lakukan dalam pernikahan itu. Cinta itu munculnya belakangan pasca mereka berdua konsisten melakukan apa yang menjadi tugasnya masing-masing.

Kita melihat orang-orang tua jaman dulu tidak pernah belajar relasi cinta dari film-film, sinetron, atau lagu-lagu galau, namun hebatnya mereka bisa membina dan merawat hubungan dengan baik. 

Berbeda dengan era modern seperti sekarang ini, kita dituntut untuk lebih selektif dalam mencari pasangan, karena tantangan hidup kedepan terlihat lebih kompleks daripada era sebelumnya.

Stok orang-orang berkualitas seakan-akan tergerus oleh arus jaman, kelangkaan orang-orang yang bernilai tinggi mulai terjadi, banyak beberapa orang yang mulai mengeluh betapa sulitnya mencari pasangan hidup, karena mereka merasa tidak ada orang yang mau menerima apa adanya.

Inilah masalahnya, sebelum anda menginginkan dan berharap mendapatkan pasangan yang "adanya apa" anda perlu terlebih dulu menjadi orang berkualitas, anda perlu menghabiskan waktu untuk menempa diri (baca : self upgrade), sebelum benar-benar akhirnya layak mendapatkan orang yang berkualitas pula.

Karena ketika anda sudah sadar diri bahwa diri anda bernilai, anda tidak akan mungkin mencari orang yang "apa adanya", sudah pasti anda akan mencari orang yang setara dan sama kualitasnya dengan diri anda.

Karena dalam relasi cinta, sudah menjadi alamiah bahwa orang-orang berkualitas biasanya akan tertarik pada orang yang berkualitas pula. Sementara orang-orang yang bermasalah dengan dirinya, cenderung tertarik pula dengan orang-orang yang bermasalah.

Karena ketika anda merasa sudah dewasa, anda tidak akan mungkin tertarik dengan seseorang yang masih kekanak-kanakan dan labil kan?.

Jadi, ketika anda menginginkan pasangan yang mau menerima diri anda apa adanya, itu cukup menunjukkan, sebenarnya anda tidak cukup berkualitas untuk bersanding dengan orang yang berkualitas pula.

Sabarlah, tempalah dahulu diri anda, bentuk kepribadian yang menawan, isi diri anda dengan banyak pengetahuan maupun keterampilan, perbanyak pengalaman, karena anda pasti tidak mau jika sampai diperlakukan "apa adanya".

Selamat mencari cinta...***

Sahabat Anda,
Reynal Prasetya

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun