Mohon tunggu...
Ratna Sari Dewi
Ratna Sari Dewi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi jurusan Ilmu Al Quran dan Tafsir

Ibu rumah tangga yang juga mahasiswi jurusan Ilmu Al Quran dan Tafsir di STAI Tasikmalaya, mempunyai hobi bersepeda dan juga menulis, menulis apa yang ingin ditulis...trip, pendidikan, sosial budaya, karya sastra, dll.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mengenal Lebih Dekat Buya Hamka

28 Mei 2024   18:49 Diperbarui: 31 Mei 2024   20:28 145
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber : gambar cssmorauinsuka.net


I. Siapakah Sosok Buya Hamka?


A. Profil Singkat

Nama lengkap Buya Hamka ialah, Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Nama Buya Hamka sendiri adalah nama pena yang digunakan saat menjadi pemimpin redaksi di majalah Pedoman Masyarakat. Beliau juga memiliki gelar Datuk Indomo.Beliau adalah seorang ulama, sastrawan dan politikus Indonesia yang sangat terkenal. Buya Hamka lahir di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, di Sumatra Barat pada tanggal 17 Februari 1908. Hamka merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya Bernama Haji Rasul dan ibunya Bernama Safiyah. Usia 7 tahun Hamka dimasukan ke sekolah desa dan malamnya belajar mengaji Quran dengan ayahnya hingga khatam.

Saat Buya Hamka berusia 10 tahun yaitu pada tahun 1918, ayahnya mendirikan pondok pesantren "Sumatera Thawalib" di Padang Panjang. Pada usia 16 tahun Hamka merantau ke Yogyakarta dan di sana Ia belajar Pergerakan Islam Modern kepada sejumlah tokoh seperti KiBagus HAdikusumo , H.O.S. Cokroaminoto H. Fakhruddin dan R.M. Soerjopranoto. Sejak saat itu, Buya Hamka mengenal pergerakan politik Islam seperti Gerakan Sosial Muhammadiyyah dan Syarikat Islam Hindia Timur.

Buya Hamka menikah dengan Siti Raham yang berusia 15 tahun pada tahun 1929, saat itu Hamka diusia 21 tahun. Mereka dikaruniai 10 orang anak. Tahun 1930, Hamka mulai mengarang dalam surat kabar Pembela Islam dan karirnya mulai diakui sebagai pengarang, pujangga, filosof Islam dan juga ulama besar hingga akhir hayatnya.

Pada tanggal 24 Juli tahun 1981, Buya Hamka menghembuskan nafas terakhir di usia 73 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.


B. Pendidikan dan Pengalaman

Buya Hamka tumbuh dalam keluarga yang religious dan minatnya terhadap ilmu agama sudah terlihat di usia anak-anak. Hamka memutuskan untuk berhijrah ke Batavia (Jakarta) demi mengejar Pendidikan formal dan keilmuan. Pendidikannya dimulai di Sekolah Persiapan Persyarikatan Muhammadiyah dan dilanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid lager Onderwijs) yang setara dengan pendidikan SMA saat ini.

Selain menjadi seorang ulama dan sastrawan Indonesia, Buya Hamka juga berkiprah sebagai wartawan, penulis, dan juga pengajar. Beliau juga menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyyah hingga akhir hayatnya.

Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar Doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo Jakarta mengukuhkan Buya Hamka sebagai guru besar. Buya Hamka juga menjadi salah satu tokoh pahlawan nasional. Hamka juga melakukan perjalanan ke Mekkah untuk mempelajari bahasa Arab dan juga sastra secara otodidak yang diawali dari pengalamannya ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyyah karena tidak memiliki diploma dan mengkritisi kemampuan bahasa Arabnya. Setelah Kembali dari Mekkah, Hamka Kembali berkarir sebagai wartawan dan guru agama di Deli. Setelah pernikahannya, Hamka menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat lewat karyanya Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Melalui karyanya ini, Namanya semakin dikenal dan melambung sebagai sastrawan.


C. Kontribusi dalam Dunia Keilmuan

Buya Hamka aktif dalam dunia pers Muhammadiyah dan menjadi pemimpin di redaksi Pedoma Masyarakat. Kontribusinya di bidang pers yang semakin dikenal dan juga dihormati. Buya Hamka menjadikan media sebagai sarana untuk berdakwah dan sarana Pendidikan bag Masyarakat. Kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dibuktikan dengan keikutsertaannya dalam pergerakan nasionalis dan dukungannya terhadap perjuangan Indonesia melalui tulisan-tulisannya. Karena dedikasinya, beliau dianugerahi sebagai salah satu tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Buya Hamka mendirikan pondok pesantren Taman Ismail Marzuki  yang berada di Jakarta sebagai dedikasinya dalam bidang keagamaan dan juga Pendidikan.


II. Ajaran Tasawwuf Menurut Buya Hamka


Pemahaman Buya Hamka tentang Tasawwuf

Seiring meluasnya kekuasaan Islam, tasawuf yang semula sederhana sejak masa Nabi Muhammad SAW kini semakin rumit dan sulit dipahami Masyarakat awam. Untuk menjadi seorang sufi harus melalu jalan yang ditentukan oleh seorang guru yang bergelar shekh yang kemudian ketentuan jalan inilah dalam tasawuf dinamakan tarekat. Seseorang dibimbing melalui zikir tertentu untuk menuju pengalaman Ilahi.

Tarekat yang banyak dipraktekan di beberapa daerah di Indonesia yaitu suluk. Praktek-praktek suluk ini digunakan untuk menyebarkan agama Islam yang sudah terbukti berhasil. Namun praktek-praktek suluk itu mendapatkan protes keras  dari Gerakan kaum muda yang dipelopori oleh Haji Abdul Karim Amrullah dan kemudian dilanjutlkan oleh anaknya, yaitu Buya Hamka. Tidak bisa dipungkiri, perkembangan Islam di Indonesia semakin luas dengan ajaran suluk. Maka dari itu, Hamka tidak menciptakan konsep baru mengenai tasawuf, Hamka menggunakan istilah tasawuf hanya sebagai media dalam menyampaikan Pendidikan Islam dengan alasan karena saat itu tasawuf bukan hal yang asing bagi umat Islam.

Dalam pemikirannya, Hamka memberi arti tasawuf sesuai dengan arti yang sebenarnya, yaitu keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji. Adapun kata ,modern adalah menegakkan kembali maksud awal dari tasawuf yaitu, membersihkan jiwa, mendidik dan mempertinggi derajat budi, menekankan segala kelobaan dan kerakusan, memerangi syahwat yang terlebih dari keperluan untuk kesentosaan diri. Maka dari itu dinamakan tasawuf modern.

Jadi menurut Hamka Hakikat tasawuf adalah usaha yang bertujuan untuk memperbaiki budi dan membersihkan batin, dan tasawuf merupakan alat untuk membentengi dari kemungkinan seseorang ,melakukan keburukan. Tasawuf modern berlandaskan tauhid dan jalan tasawufnya melalui sikap zuhud.Penghayatan tasawufnya berupa pengalaman takwa yang dinamis bukan untuk Bersatu dengan Tuhan, refleksinya merupakan kenampakan kepekaan sosial.


III. Kandungan Buku "Tasawwuf Modern"


Dalam buku Tasawuf Modern menjawab permasalahan yang ada di sekitar Masyarakat pada saat itu dengan bahasa yang ringan. Buya Hamka dalam bukunya menggabungkan berbagai keilmuan seperti psikologi, mistisisme, salafiah, namun tetap kontekstual. 


IV. Sistematika Penulisan Tafsir al-Azhar


Struktur dan Metode Penulisan

Tafsir al Azhar menggunakan metode tahlili dengan pendekatan komprehensif dan menghadirkan pendekatan yang menyeluruh dan focus pada pemahaman keseluruhan pesan dalam al Quran. Metode tahlili sendiri adalah pendekatan yang analitis dalam menafsirkan al Quran, yang pada umumnya membahas ayat-ayat secara berurutan sesuai susunan dalam mushaf.
Sistematika penulisan tafsir al Azhar dimulai dengan pendahuluan mengenai surah yang akan ditafsirkan dengan menjelaskan arti nama surah, asbabun nuzul dan konteks surah sebelum masuk pada penjelasan ayat-ayatnya.

Setelah pendahuluan, Lalu masuk pada inti penjelasan pada ayat-ayat yang cenderung memberi penekanan pada pemahaman makna dan petunjuk dalam kandungan ayat dengan menggambarkan pesan utama yang ingin disampaikan dalam ayatnya. Buya Hamka juga cenderung mengelompokan ayat-ayat yang memiliki kesamaan tema untuk membantu pembaca dalam memahami keterkaitan antara ayat-ayat tersebut.

V. Penafsiran Sufi dalam Tafsir al-Azhar


A. Kategorisasi Tafsir al-Azhar dalam Nuansa Sufi

Tafsir Al Azhar menggunakan corak Sufi Isyari'


B. Contoh Penafsiran ayat al Quran yang Bersifat Sufistik

QS. Asy-Syam ayat 9 dan 10

9. Maka berbahagialah barangsiapa yang membersihkannya

10. Dan celakalah barangsiapa yang mengotorinya

Menurut Buya Hamka, makna "membersihkannya dan mengotorinya" dari ayat di atas merupakan gabungan dari jasmani dan rohaninya. Jasmani dibersihkan dari hadas dan Najis, Rohani dibersihkan dari penyakit yang mengancam kemurniannya dalam upaya untuk keluar dari keterpurukan hidup menuju penyucian jiwa dari keduniawian.

Sumber :

Tasfir al-Azhar

Tasawuf Modern

Jurnal UIN

 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun