Mohon tunggu...
Rania Wahyono
Rania Wahyono Mohon Tunggu... Wiraswasta - Freelancer

Mencari guru sejati

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Paradoks Kebahagiaan: Mengapa Kebahagiaan Semakin Menjauh Saat Dikejar?

2 Agustus 2024   14:13 Diperbarui: 6 Agustus 2024   05:54 516
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi seseorang yang selalu mengejar kebahagiaan dalam hidupnya. | Foto: Pexels.com/James Gana

Banyak dari kita telah menghabiskan waktu dan energi untuk mencari cara agar selalu merasa bahagia. Ada yang mengartikan kebahagiaan sebagai banyaknya uang yang dimiliki, ada juga yang mengartikannya sebagai kesuksesan karier, memperoleh kekuasaan, menjadi pemenang dalam mendapatkan cinta atau telah memiliki segalanya.

Kenyataannya jika kita menginginkan sesuatu di luar kemampuan hanya akan membuat frustasi. Terus menerus mengejar kesuksesan dan mencari kekayaan tanpa ada habisnya, tanpa mengenal waktu dan tanpa ada jeda. Selalu akan ada jalan baru yang lebih lebar yang ingin dilalui dengan segera. Hingga tanpa disadari timbul rasa lelah, stress dan frustasi.

Mungkin kamu telah berhasil mencapai tujuanmu namun tidak sempat untuk benar-benar menikmatinya. Ternyata setelah mendapatkannya, kebahagiaan itu tidak bertahan lama dan hilang begitu saja. Dan kamu telah kehilangan banyak waktu berharga atas momen-momen istimewa yang datang untukmu.

Mengapa semakin mengejar kebahagiaan seakan semakin sulit didapatkan. Inilah yang dikenal sebagai Happiness Paradox atau paradoks kebahagiaan, di mana semakin kita mengejar kebahagiaan justru semakin menjauh dan sulit untuk mencapainya.  

Apa Itu Paradoks Kebahagiaan?

Paradoks Kebahagiaan atau Happiness Paradox adalah upaya yang intens untuk mencari kebahagiaan yang sering kali mengakibatkan berkurangnya kebahagiaan itu sendiri. Jadi kalau kita terus-menerus mencari kesenangan atau kebahagiaan justru tidak akan bertemu dan merasakan kebahagiaan atau kesenangan yang sesungguhnya.

Seperti misalnya mengejar kekayaan. Banyak orang percaya bahwa uang akan membawa kebahagiaan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, tambahan kekayaan tidak secara signifikan meningkatkan kebahagiaan justru menambah beban pikiran dan stress.

Terlalu fokus mengumpulkan kekayaan mungkin mengorbankan waktu bersama keluarga dan teman-teman, yang sebenarnya adalah sumber kebahagiaan yang lebih besar.

Contoh lainnya adalah mengejar popularitas. Di era digital sekarang banyak orang berusaha keras untuk menjadi populer dan disukai oleh semua orang dengan tujuan meraih follower atau views sebanyak-banyaknya. 

Terus-menerus berusaha mendapatkan like atau validasi dari orang lain dapat menyebabkan kecemasan dan stress yang akhirnya menciptakan perasaan kurang bahagia. Lebih baik fokus pada hubungan yang lebih autentik dan bermakna.

Victor Frankl seorang psikolog dan penyintas Holocaust, terkenal dengan pandangannya tentang kebahagiaan melalui bukunya "Man's Search for Meaning". Frankl percaya bahwa kebahagiaan tidak dapat dikejar secara langsung, melainkan muncul sebagai hasil samping dari pencarian makna dan tujuan dalam hidup.

Frankl menekankan bahwa kebahagiaan itu adalah efek samping yang tidak disengaja atas tindakan yang telah kita lakukan. Seperti saat kita membantu dan mengabdikan diri pada orang lain untuk tujuan yang lebih besar.

Bahkan kebahagiaan dapat ditemukan dalam situasi yang paling sulit dan penderitaan seperti yang dia alami saat berada di kamp konsentrasi. Penderitaan akan berakhir ketika kita telah menemukan makna dari penderitaan itu dan akhirnya kebahagiaan secara tidak sengaja telah diraih justru setelah merasakan penderitaan.

Ia percaya bahwa menemukan makna dalam penderitaan dapat membawa kebahagiaan yang lebih dalam dan tahan lama. Jadi nikmati dan jalani saja hidup ini biarkanlah mengalir, jangan hidup di masa lalu dan jangan khawatir tentang masa depan fokuslah untuk hidup sepenuhnya di masa sekarang.

Bagaimana Menemukan Kebahagiaan Sejati?

Mencari kesenangan dan menghindari penderitaan sebenarnya adalah naluri dari setiap manusia. Tapi dalam pencariannya, justru membuat kita menjadi semakin tidak bahagia dan akhirnya terjerumus pada hal-hal yang merugikan diri kita sendiri.

Setiap orang selalu ingin meraih kebahagiaan dan meningkatkan standart kebahagiannya namun keinginan untuk merasakan kebahagiaan selamanya dan selalu bahagia seumur hidup adalah sesuatu yang tidak realistis. Dalam hidup kita akan sesekali merasakan hal buruk dan penderitaan, itulah yang membuat kita terus berkembang.

Sadarkah berapa kali kita selalu membandingkan hidup kita dengan orang lain entah itu teman, keluarga atau orang yang sama sekali tidak kita kenal di media sosial lalu menjadikannya sebagai standart kebahagiaan.

Kalau untuk menjadi bahagia harus memiliki rumah atau mobil yang mewah maka berapa banyak orang di dunia ini yang hidupnya tidak bahagia. Jika standart bahagia dinilai dengan wajah rupawan dan fisik yang sempurna maka seharusnya para selebritis selalu bahagia, kenyataannya tidak.

Kadang kita terlalu memiliki ekspektasi yang berlebihan dalam meraih kebahagiaan namun lupa pada hal-hal positif yang sudah kita dimiliki dalam hidup. Padahal hidup selalu penuh dengan surprise yang dapat diambil hikmah dari sisi positifnya.

Seseorang yang terlahir di keluarga yang ekonominya pas-pasan, jika fokusnya hanya pada nasib buruk dan ketidak beruntungan maka akan menjadi sesuatu yang tidak pernah membahagiakan. Tapi jika fokus pada hal baik pada diri dengan gigih berusaha, semangat dan pantang menyerah maka dapat merubah nasib menjadi wirausaha sukses hingga dapat memperkerjakan teman-temannya yang lulus kuliah.

Bagaimana sikap dan perspektif kita dalam menyikapi suatu masalah dan keadaan akan memberi dampak pada hasil akhirnya. Bayangkan jika kita terus-menerus memikirkannya sebagai sebuah ketidak beruntungan atau nasib buruk dan terus-menerus bersedih lalu menutup diri dari pergaulan dan terus menyalahkan keadaan atau orang lain. 

Hasil yang didapat adalah kesehatan mental yang terganggu, hubungan sosial memburuk dan nasib pun tidak membaik. Jadi fokuslah pada hal-hal positif yang kita dimiliki dan teruslah berusaha.


****

Paradoks kebahagiaan mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak bisa dicapai dengan terus menerus mengejarnya. Sebaliknya, kebahagiaan sering kali datang sebagai efek samping atas berbagai tindakan yang kita lakukan seperti membantu sesama, membangun hubungan yang kuat hingga penderitaan.

Setiap dari kita memiliki time line hidup dan kebahagiannya sendiri-sendiri dan tidak pernah ada yang sempurna di dunia ini. Ada fase dalam hidup yang merupakan berkah yang patut disyukuri dan sebagian lainnya adalah tantangan yang akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun