Sosialisasi menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti upaya memasyarakatkan sesuatu sehingga dikenal, dipahami, dihayati oleh masyarakat atau pemasyarakatan. Sosialisasi itu sendiri sangat penting adanya, karena bila tidak ada sosialisasi maka bisa dipastikan apapun tujuan yang kita maksudkan untuk diri kita maupun orang lain tidak akan tercapai. Kasus perundungan yang terjadi di kalangan anak usia sekolah ini menjadi tujuan kami melakukan sosialisasi kepada siswa kelas III Sekolah Dasar. Ditinjau dari banyaknya kasus usia merekalah yang menjadi sasaran kasus perundungan.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui suatu fenomena dalam kontak sosial dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang akan dibahas. Pada artikel ini kelompok ini memiliki tujuan dalam penelitian ini yaitu memahami secara mendalam perilaku anak usia sekolah, faktor penyebab terjadinya perundungan, dan melakukan pendekatan sebagai upaya pencegahan perundungan yang sering terjadi di Sekolah Dasar.
PEMBAHASAN
Perkembangan Anak Usia Sekolah
Pengertian anak usia sekolah
Menurut definisi World Health Organization (WHO) (dalam Fibrianto, 2019) anak usia sekolah yaitu golongan anak yang berusia 7 - 15 tahun. Sedangkan di Indonesia lazimnya anak yang berusia 6 - 12 tahun oleh KEMENKES (dalam Fibrianto, 2019). Masa usia sekolah sering disebut sebagai masa intelektual. Pada tahap ini perkembangan usia anak sekolah dasar 6 - 12 tahun secara relatif lebih mudah dididik dari pada masa sebelum dan sesudahnya oleh Yusuf ( dalam Fibrianto, 2019).
Perkembangan anak usia sekolah (kognitif, psikososial, moral)
Perkembangan Kognitif anak usia SD
Teori perkembangan ini dikemukakan oleh Piaget menyatakan bahwa anak usia SD pada umumnya berada pada tahap operasional konkret untuk anak dengan rentang usia 7 - 11 tahun. Selama masa SD terjadi perkembangan kognitif yang pesat pada anak. Anak mulai belajar membentuk sebuah konsep, melihat hubungan, dan memecahkan masalah pada situasi yang melibatkan objek konkret dan situasi yang tidak asing lagi bagi dirinya. Menurut pernyataan Slavin (dalam Trianingsih, 2016) menyatakan bahwa terdapat empat implikasi teori kognitif Piaget terhadap pendidikan. Pertama, guru harus peduli terhadap metode atau proses pemikiran anak hingga diperolehnya suatu hasil pemikiran dalam dirinya. Kedua, guru harus menyediakan berbagai kegiatan yang memungkinkan adanya keterlibatan aktif siswa dengan inisiatif dalam dirinya sendiri. Ketiga, guru tidak boleh menekankan kegiatan belajar yang menuntut anak untuk berpikir layaknya orang dewasa. Keempat, guru harus peduli terhadap kecepatan dan tingkat perkembangan kognitif masing-masing siswa dalam melaksanakan suatu pembelajaran sehingga masing-masing siswa dapat belajar secara optimal.
Perkembangan Psikososial Anak Usia SD