Sekitar tahun 2014, daku diminta tolong oleh kakak yang bernama Satria untuk menjual motornya. Motornya saat itu sudah dimodifikasi bergaya klasik dengan paduan modern dari tahun 2012 s/d 2014. Ia menyampaikan memodifikasi motornya ala JAP style dimana ia menghabiskan total 22 juta rupiah diluar harga motor Suzuki Thunder 125 cc dikisaran 14 juta rupiah saat itu. Yang daku ingat yang tersisa dari part Suzuki Thunder hanya shock breaker depan dan rangka yang sudah dipotong lebih pendek.
Ternyata penggemar motor bergaya klasik juga cukup besar tidak hanya kakak daku seorang. Bila daku lihat disalah satu fanpage facebook penggemar motor tua dan klasik terdapat 2339 like. Banyak pula komunitas - komunitas motor tua di Indonesia dari berbagai brand motor seperti Harley Davidson, BMW, Northon, Binter, Triumph, CB 100 diberbagai daerah. Bila dihitung pastinya jumlahnya ribuan bahkan mungkin belasan ribu.
Bagi yang memiliki uang lebih bisa membeli motor klasik ini dengan harga puluhan juta bahkan ratusan juta. Apa yang membuat para bikers tertarik pada motor model klasik. Daku ketika mencoba bertanya kepada kakak, ia menjawab karena modelnya yang long lasting (sepanjang masa), tidak lekang tertelan jaman masih saja enak dilihat.
Motor Model Klasik yang Long Lasting
Motor model klasik menurut daku memang long lasting. Gaya berkendara pun akan membuat perhatian karena suara knalpot yang menderu dibandingkan dengan motor jaman sekarang yang lebih soft suara knalpotnya. Para pecinta motor klasik ketika berkendara acap kali kita lihat berkelompok, apakah itu kelompok kecil atau besar. Tetapi ada yang khas pada diri para pengendara tersebut yaitu gaya berbusana mereka.
Saat daku lihat tertera sebuah brand motor dibagian atas gedung yang bertuliskan "Royal Enfield". Sebuah brand motor yang kurang familier bagi diri daku. Awalnya daku memandang didepan showroom motor yang terparkir dengan standart miring dan terlihat seorang pria dengan kaos ketat mendekat. Ia menanyakan kepada daku bagaimana menurut daku motor tersebut. Daku hanya bilang motor tua ini terawat dengan baik, asli keren. Pria tersebut tersenyum kecil dan berucap "ini motor produksi baru bang dan bukan modifikasi".
Untuk rumah lampu depan dengan fitur “Lampu Mata Harimau” untuk tampil seperti Bullet. Lampu depannya tradisional tetapi dengan bola lampu halogen untuk memberi penerangan yang baik. Tersedia pula peredam suara yang secara estetis dirancang sesuai dengan penampilan tahun 1950-an., tetapi tersedia sebagai aksesori opsi untuk penggunaan off-road saja. Untuk menguatkan aura perang dunia ke II tangki yang dibuat dengan grafik era pasca perang dan diberi bantalan paha agar terlihat klasik dengan kapasitas bahan bakar 14,5 liter. Ukuran roda depan: 19” dan belakang: 18”.
Motor ini bisa menjadi pilihan bagi yang ngefans dengan model klasik tetapi ada keraguan membeli motor tua / klasik karena berfikir akan perawatannya. Tehnologi engine dan part sudah menggunakan tehnologi masa kini hanya modelnya saja yang uzur. Bagi daku untuk saat ini mungkin baru berupa mimpi karena pengeluaran di fokuskan untuk berobat kakak.
Royal Enfield Ternyata Sudah Ada semenjak 1901
Setelah menerangkan spesifikasi dari Classic 500 desert storm kemudian pria ini memberikan sebuah brosur. Ada yang membuat daku fokus membaca tertera tulisan dibagian atas "Riding Since 1901". Langsung daku menggarukkan kepala, sambil berucap dalam diri "ini perusahaan motor tua amat yaks". Berarti brand motor ini lebih tua 2 (dua) tahun dari Harley Davidson yang memang saat ini cukup dikenal di Indonesia. Mungkin karena daku tidak tergabung dengan komunitas motor jadinya kurang informasi. Dengan melihat - melihat showroom Royal Enfield di pejaten ini membuka mata ada brand legendaris lainnya dan beda segmen dengan brand lainnya. Sebagai seorang Blogger, daku harus bersikap cerdas dengan mempelajari sejarah dari brand ini.
Dari beberapa literatur yang daku baca, Royal Enfield awalnya merupakan brand inggris yang terdaftar sejak tahun 1899. Brand ini memang memiliki sejarah yang sangat panjang dimana berawal dari memproduksi sepeda roda dua, dilanjutkan dengan memproduksi sepeda roda empat, kemudian mulai merambah industri sepeda motor dengan menggandeng Minerva sebagai pembuat engine bagi sepeda motor Royal Enfield. Pada tahun 1901 akhirnya Royald Endfield secara mandiri mampu memproduksi sepeda motor pertamanya dengan engine 239cc.
Tahun 1955, Royal Enfield mulai mengarahkan produksinya dengan membuka pabrik perakitan di Madras, India, tepatnya yang sekarang disebut Chennai. Namun demikian, Royal Enfield di Inggris tetap memproduksi sepeda motor sampai tahun 2009. Sejauh ini, Royal Enfield konsisten mempertahankan mesin satu silinder dengan teknologi pembukaan klep yang masih mengandalkan OHV (Over Head Valve). FYI, teknologi OHV adalah mekanisme pembukaan dan penutupan klep dengan cam shaft (noken as) berada dibawah langsung berhubungan dengan crank shaft (kruk as) melalui roda gigi. Sedangkan pergerakan cam akan diteruskan ke rocker arm (pelatuk) melalui push rod.
**oo00oo**
Ketika ingin membeli atau bermimpi membeli produk daku membiasakan diri untuk memahami "Product Knowledge". Sejarah, brand, kualitas, dan jangkauan. Jangan hanya melihat dari internet / dunia maya karena kita harus menyentuh dengan kulit kita sendiri terhadap produk tersebut.
Salam Hangat - Blogger Rusuh berambut Undercut - Andri Mastiyanto
email : mastiyan@gmail.com
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H