Mahkamah Konstitusi pun, menurut beliau, termasuk salah satu lembaga negara yang terproduktif menerbitkan buku. Penting untuk melakukan budaya baca-tulis dalam dunia Kehakiman untuk mewujudkan keadilan dan kebenaran konstitusional.
Budaya baca-tulis penting dilakukan oleh orang-orang di dalam lingkungan Mahkamah Konstitusi, termasuk oleh para Hakim Konstitusi Yang Mulia. Hal ini yang juga diaminkan oleh Wakil Ketua Hakim Konstitusi Yang Mulia Prof. Dr. Saldi Isra, S.H.Â
Sebagai guardian of constitution alias pengawal Konstitusi, Hakim Konstitusi sejatinya memang perlu membekalkan diri dengan banyak referensi-referensi bacaan dan tulisan untuk bisa menciptakan kebenaran dan keadilan, serta sebagai pertimbangan atau evaluasi diri terkait putusan-putusan yang telah dikeluarkan.
Kemudian, saat ini, Indonesia memasuki tahun politik, salah satu kewenangan dari MK adalah memutus perselisihan tentang hasil pemilu. Penting bagi MK untuk betul-betul adil dalam memutuskannya dengan penuh integritas tanpa ada intervensi politik.Â
Saat ada perselisihan tentang hasil pemilu, khususnya pilpres, MK seolah menjadi magnet dan kiblat masyarakat Indonesia. Hampir semua pemberitaan di media, baik media massa maupun media sosial, ditujukan kepada hasil sengketa yang diputuskan oleh MK.Â
Hal ini sama dengan Piala Dunia dalam sepak bola, seluruh mata dunia tertuju pada pertandingan yang berlangsung. Masing-masing tim berjuang untuk meraih gelar juara dan masing-masing keputusan yang dibuat oleh wasit menjadi krusial dalam menentukan hasil akhir.Â
Begitu juga dengan MK saat menangani sengketa pemilu, khususnya pilpres. Pemilu merupakan momen penting dalam sebuah negara, mirip dengan Piala Dunia dalam sepak bola. Di momen ini, MK menjadi "wasit" yang memastikan semua aturan pemilihan dijalankan secara adil dan konstitusional. Masing-masing keputusan yang dibuat oleh MK dalam menyelesaikan sengketa sangat penting dan berdampak langsung pada hasil pemilu.Â
Sehingga, MK mesti menjalankan peran ini dengan integritas, objektivitas, dan transparansi. Setiap keputusan mesti dibuat berdasarkan bukti dan hukum yang ada, bukan berdasarkan tekanan politik atau preferensi pribadi. Dengan cara ini, MK bisa membantu memastikan bahwa hasil pemilu mencerminkan kehendak rakyat dan menghormati prinsip demokrasi.Â
Masyarakat bisa melihat bagaimana MK telah berhasil berperan sebagai wasit keadilan dalam dua dekade terakhir. Namun, perjalanan tersebut masih panjang, dan banyak tantangan yang mesti dihadapi. Semoga MK terus bergerak maju dalam mewujudkan supremasi Konstitusi di Indonesia, 20 Tahun Mahkamah Konstitusi, menggiring bola, mencetak gol keadilan!