Mohon tunggu...
Tino Rahardian
Tino Rahardian Mohon Tunggu... Jurnalis - Pegiat Sosial⎮Penulis⎮Peneliti

Masa muda aktif menggulingkan pemerintahan kapitalis-militeristik orde baru Soeharto. Bahagia sbg suami dgn tiga anak. Lulusan Terbaik Cumlaude Magister Adm. Publik Universitas Nasional. Secangkir kopi dan mendaki gunung. Fav quote: Jika takdir menghendakimu kalah, berikanlah dia perlawanan yang terbaik [William McFee].

Selanjutnya

Tutup

Artificial intelligence Pilihan

Marxisme: AI untuk Kesejahteraan Rakyat

29 Desember 2024   22:14 Diperbarui: 29 Desember 2024   22:14 71
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://melwild.wordpress.com/

"Anda tidak akan kehilangan pekerjaanmu dengan AI. Anda akan kehilangan pekerjaan dengan orang yang menggunakan AI"

Begitulah pernyataan Jensen Huang, pendiri dan CEO NVIDIA Corporation, sebuah perusahaan teknologi multinasional Amerika yang didirikan di Delaware dan berbasis di Santa Clara, California.

Sekilas, pernyataan Jensen tersebut ada benarnya, namun tidak sepenuhnya benar. Jumlah generasi pre-boomer dan baby boomer di Indonesia 36 juta jiwa atau 13,43% dari total penduduk Indonesia.

Hampir separuh dari angka tersebut, usia diatas 55 tahun, tepatnya sebanyak 48,27%, samasekali belum akrab dengan internet (Katadata.co.id, 2022).

Data yang berbeda datang dari APJII (2024), pengguna internet generasi baby boomer (kelahiran 1946-1964) sebanyak 6,58% dan pre-boomer (kelahiran 1945) sebanyak 0,24% dari total pengguna internet di Indonesia sebesar 221,5 juta (apjii.or.id, 2024).

Selain problem pemerataan internet di daerah rural yang masih rendah (30,5%), Tingkat pengangguran yang tinggi juga perlu menjadi perhatian.

Teknologi dan Efisiensi Produksi

Kecerdasan buatan (AI) telah menjadi topik yang semakin relevan dalam diskusi tentang tatanan masyarakat adil-makmur dan kesejahteraan rakyat.

Karl Marx, 157 tahun yang lalu, sudah meyakinkan dunia melalui bukunya "Das Kapital: Kritik der Politischen Okonomi" yang terbit pada 14 September 1867, menyatakan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu mengarah pada peningkatan kesejahteraan bagi semua orang.

Marx melihat teknologi sebagai alat yang dapat meningkatkan efisiensi produksi. Dalam karyanya, ia berargumen bahwa perkembangan alat produksi, termasuk mesin, dapat mengubah dinamika kelas dalam masyarakat.

Ia percaya bahwa ketika alat produksi berkembang, hal ini dapat menguntungkan kelas borjuis (pemilik modal) dengan cara menekan biaya produksi dan meningkatkan profit, tetapi pada saat yang sama dapat memperburuk kondisi kelas proletariat (pekerja) yang terasing dan kehilangan pekerjaan mereka akibat otomatisasi.

Senada dengan Marx, 61 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1928, Leon Trotsky menerbitkan buku "The Permanent Revolution and Results and Prospects" menyatakan bahwa masyarakat adil-makmur hanya akan tercipta jika ada peningkatan alat produksi yang signifikan.

David Harvey dan James Veltmeyer berargumen bahwa konflik antara buruh dengan pemilik modal tidak berakhir dengan kemajuan teknologi; sebaliknya, teknologi itu sendiri menciptakan kondisi baru bagi perjuangan selanjutnya.

Marxisme bersepakat bahwa kemajuan teknologi berdampak pada efisiensi produksi. Fakta yang tak terbantahkan. AI dapat menyelesaikan urusan dalam waktu yang singkat, mulai dari administrasi kantor, rantai produksi, distribusi, analisis kebijakan publik, perilaku pelanggan, dan sebagainya.

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa AI memiliki kemampuan memecah kebuntuan birokrasi, meningkatkan akuntabilitas dan transparansi, memperkuat pengawasan, mempercepat pengambilan keputusan, dan sebagainya.

AI dan Kesejahteraan Rakyat

Dengan kemajuan teknologi ini, muncul pertanyaan tentang bagaimana AI dapat mempengaruhi struktur sosial dan ekonomi, serta bagaimana ia dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

India adalah contoh yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian dengan AI (Tempo.co, 2024) melalui sistem bernama AnthroKrishi, yang menggunakan citra satelit beresolusi tinggi dan machine learning untuk membantu petani memantau hasil panen dan kondisi tanah. 

Program ini berhasil meningkatkan efisiensi pertanian dan memberikan data yang lebih akurat kepada petani, sehingga mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik terkait pertanian mereka.

Norwegia telah mengadopsi AI dalam sektor publik untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Norwegia memiliki sikap positif terhadap penggunaan AI dalam layanan publik, berkat transparansi dan akuntabilitas yang ditingkatkan.

AI digunakan untuk mempercepat respons terhadap pertanyaan masyarakat, mengelola data dengan lebih efisien, serta menyediakan layanan yang lebih personal dan mudah diakses. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi tetapi juga membangun kepercayaan antara pemerintah dan warganya

Bagaimana dengan Indonesia?

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Strategi Nasional Kecerdasan Buatan (STRANAS KA) untuk memanfaatkan AI dalam berbagai sektor, termasuk pemerintahan dan pertanian.

Salah satu contohnya adalah penerapan sistem manajemen irigasi cerdas yang menggunakan algoritma prediktif untuk meramalkan kebutuhan air tanaman, yang terbukti meningkatkan hasil pertanian hingga 20% sambil mengurangi penggunaan air (djpb.kemenkeu.go.id, 2024).

Selain itu, teknologi AI juga digunakan di DKI Jakarta untuk memantau batas ketinggian air, membantu dalam pengelolaan bencana (Rohman, 2024).

Beberapa contoh teknologi AI yang telah digunakan dalam pertanian di Indonesia:

  • Drone Berbasis AI: Digunakan untuk memantau kesehatan tanaman, mendeteksi hama, dan memprediksi hasil panen.
  • Sensor Tanah: Mengukur kelembapan, pH, dan nutrisi tanah untuk membantu pengambilan keputusan terkait pemupukan dan irigasi.
  • Sistem Irigasi Pintar: Mengoptimalkan penggunaan air berdasarkan data cuaca dan kebutuhan tanaman.
  • Robot Pertanian: Melakukan tugas seperti pemanenan dan penyemprotan pestisida secara otomatis.
  • Aplikasi Plantix: Mengidentifikasi kekurangan tanah dan penyakit tanaman melalui pengenalan gambar.

Namun, setiap kemajuan teknologi tentu akan membawa tantangan yang harus dihadapi. Tantangan terbesar dalam penerapan AI untuk pertanian di Indonesia, diantaranya:

  • Biaya Tinggi Teknologi: Investasi awal untuk perangkat keras dan perangkat lunak AI sering kali mahal, menyulitkan petani kecil untuk mengadopsinya.
  • Kurangnya Pengetahuan dan Keterampilan: Banyak petani belum terbiasa dengan teknologi AI, sehingga memerlukan pelatihan khusus.
  • Infrastruktur Terbatas: Keterbatasan infrastruktur digital di daerah pedesaan menghambat akses dan penggunaan teknologi ini.
  • Resistensi terhadap Perubahan: Beberapa petani lebih memilih metode tradisional, yang dapat menghambat adopsi teknologi baru.

AI seperti dua mata pisau. Dia bisa mendatangkan berkah namun jika tidak mampu dikelola secara tepat, sudah dipastikan akan mendatangkan musibah.

Implementasi AI di berbagai negara menunjukkan bahwa teknologi ini dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan efisiensi dalam sektor pertanian dan pelayanan publik.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan kolaborasi antara berbagai pihak, AI memiliki potensi besar untuk membawa keadilan sosial dan perubahan positif bagi masyarakat. Semoga.*

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Artificial intelligence Selengkapnya
Lihat Artificial intelligence Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun