Di sana saya dikepung oleh kabel-kabel yang berhubungan dengan monitor jantung, selang serta masker oksigen yang menutupi mulut, juga berbagai kabel lainnya. Â
Apalagi beberapa kali saya mengalami bius lokal di kamar operasi, sehingga jelas terlihat saat-saat yang terjadi. Kemudian mendengar berbagai percakapan dokter dan perawat di sana.
Dalam bayangan tergambar jelas posisi para dokter serta perawatnya dalam ruang kamar. Sambil berharap cemas, agar dokter tidak salah sayat jaringan yang ada di tubuh, atau keliru memakai pisau bedah, karena dapat berakibat fatal.
Dalam hati, saya hanya bisa berdoa dan berzikir dengan khusyuk. Agar Allah melancarkan dan memudahkan dokter melakukan proses operasi.Â
Sehingga tak ada hal yang terlewatkan dari berbagai standar kerja operasi yang dilakukan.
Tak terbayangkan jika saat operasi, Allah  tidak melancarkan. Bisa saja dokter grogi, atau galau di meja operasi.Â
Mungkin teringat anak di rumah, ada masalah lain dengan pasangan, orang tua ataupun teman.Â
Dan emosi di luar itu masih terbawa ke meja operasi. Dokter pun  juga manusia seperti lainnya, ia juga memiliki masalah, dan bisa khilaf.
Jadi saya pun tetap terus berzikir tanpa putus dalam diam. Berharap hanya kepada Allah, berfikir positif bahwa dokter adalah tenaga ahli di bidangnya.
Sehingga tidak akan salah sayat, salah potong ataupun salah prosedur selama menjalani operasi.
Hal yang ramai dikenal dengan istilah Mal Praktik. Sebuah kelalaian dalam standar profesional yang menyebabkan seorang pasien menderita kerugian (Wikipedia). Â Â