Seporsi sate milik saya sudah habis duluan. Tapi saya tidak pernah mau memakan kulit ayam yang biasanya diletakkan di tengah tusuk sate, diapit dua potongan kecil daging itu. Saya pikir begitulah nasib manusia kebanyakan yang sering didesak dua pilihan. Ketika dua pilihan itu menghilang, yang tersisa hanyalah sepi kembali.
“Rupanya kamu memperhatikan saya...” jawab saya singkat.
Bupati yang sekarang konon katanya menggalakkan peremajaan taman-taman. Tapi tidak ada yang signifikan. Taman di sepanjang sisi sungai Brang Biji misalnya, kurang cahaya. Ada baiknya bila di sana dibangun talud, lalu dipancangkan lampu-lampu yang terang benderang. Orang-orang bisa berjualan. Bukan malah menjadi tempat mesum. Pasangan muda duduk berpangku di motor. Siapa pun tahu, hal yang mereka inginkan bukanlah membiarkan oksigen diserap pohon-pohon, tapi saling mencoba memberikan napas buatan. Juga taman di depan Polres ini. Satu tugu yang menjulang gagal menjadi POI. Awalnya saya ingin mengajakmu duduk di sana, dan kita akan persis orang yang berpacaran. Tapi lampu tamannya sudah keburu mati. Putus. Kamu tidak berniat memutuskan pertemanan ini ‘kan?
Dua rembulan di langit masih tertutup awan. Saya mulai terbiasa dengan segala omong kosong ini. Kamu lalu bercerita tentang kucing. Kucingmu yang sudah dipelihara dari kecil sepulang ini akan kamu berikan ke teman. “Warnanya putih. Persia. Biaya perawatannya mahal,” katamu lagi.
“Kenapa tidak diberikan ke saya?”
“Telat.”
“Kalau pemiliknya, kenapa tidak diberikan ke saya?”
“Telat.”
Dua jawaban. Dua-duanya telat. Ini menyakitkan. Lalu satu teguk jus wortel-jeruk membasahi kerongkongan. Itu menyegarkan.
Setelah kamu bilang untuk tidak mencintaimu, saya belum menyerah sepenuhnya. Meski menjengkelkan rasanya, sebelum saya sempat bilang apa-apa, kamu sudah menolak untuk dicintai. Saya ingin katakan kepadamu, mencintai itu adalah hak saya. Hak kamu adalah menerima atau menolak cinta saya. Suka bingung, ada saja orang yang salah mengartikan hak. Saya tidak suka asam padeh dipertanyakan. Saya tidak suka sinetron dipertanyakan. Saya tidak suka Jokowi malah dihina-hina. Saya mau suka kamu saja dipersulit. Bukan birokrasi saja ternyata yang suka mempersulit.
Rasanya di tahun omong kosong ini, hak dan kewajiban, benar dan salah, jadi semakin sulit dibedakan. Sama halnya Son Ye Jin dan Han Ga In. Jangan-jangan mereka operasi plastik di dokter bedah kulit yang sama. Kecantikan artifisial seperti itu hanya indah dipandangi dari jauh. Saya lebih suka kecantikan alami. Seperti yang Laura Basuki bilang, kecantikan itu simpel, nggak perlu dengan jahit benang segala. Bagi saya, kecantikan alami itu kamu. Kamu yang rela akan pergi ke Labangka, dua jam perjalanan berpanas-panasan hanya untuk membuktikan pasir-pasir di sana memang mirip merica. Demi kamu, bila kamu mau, saya akan borong seluruh merica di Sumbawa dan menaburkannya di Pantai Kencana. Lalu kita duduk di sana sambil melihat senja terbaik yang memang hadir di bulan Mei dan Juni.