Dalam pidatonya pada Rabu (16/9/2020), Mehan AS, Mark Esper mengumumkan Pentagon akan membangun kemampuan tempur Angkatan Laut, US Navy dengan menambah kapal perang, kapal selam dan pesawat Drones untuk menghadapi tantangan maritim terkini dari PLA Navy yang diketahui kekuatannya sebanyak 350 kapal perang.
Esper mengatakan kekuatan US Navy yang dijuluki 'Future Forward' akan menambah armada angkatan laut dari 293 kapal perang menjadi menjadi lebih dari 355 kapal.Â
Rencana itu membutuhkan anggaran puluhan miliar dolar bagi US Navy dari sekarang hingga tahun 2045, bertujuan untuk mengungguli PLA Navy (China) yang dipandang sebagai ancaman utama bagi AS.
Analisis
Kunjungan Mike Pompeo ke Indonesia dinilai bermanfaat bagi kedua negara. AS mendapat kepastian "true friend" dari Presiden Indonesia, Jokowi. Indonesia di posisi aman, sebagai teman walau bukan sebagai sekutu dan tidak di posisikan sebagai negara dengan klasifikasi musuh atau calon musuh oleh Amerika.
Pemerintahan Trump dari Partai Republik berusaha mempertanggung jawabkan implementasi NSS, yang tidak hanya fokus menetapkan Iran, Korea Utara dan Rusia, tetapi kini menggeser fokus lawan utama yang berat beberapa waktu terakhir adalah China.
Trump terpaksa mengikuti kebijakan Barack Obama dari Partai Demokrat dengan konsep rebalancing fokus di Kawasan Asia Pasifik dengan musuh utama China dan menegaskan kebijakan jalur laut bebas (LCS) tidak dikuasai satu negara.Â
Apa yang dikerjakan Pompeo satu bulan menjelang pilpres, adalah diplomasi dan intelligence conditioning regional Asia Tenggara dan kawasan sekitar LCS. Indonesia kunci terakhir konsep Indo Pacific dan Higher Road, dalam upayanya mengamankan jajaran sekutunya QUAD dalam menjepit China.
Kesimpulan
Mike Pompeo adalah menteri Luar Negeri yang menguasai penuh situasi dan kondisi geopolitik serta geostrategi dalam mengimplementasikan National Security Strategy khusus bidang diplomasi, serta politik luar negeri dengan nilai plus sebagai pakar intelijen. Memang untuk menuju menjadi paling tidak Great Power, sebuah pemerintahan akan maju bila presidennya dibantu staf yang hebat dan mumpuni.Â
Presiden Jokowi membuktikan diri mampu berdiplomasi saat bertemu dengan Pompeo, menegaskan posisi Indonesia menekankan arti penting hubungan bilateral, tanpa menyakiti pihak lain.Â
Pompeo mewakili AS datang untuk membicarakan geopolitik regional Asia Pasifik, sebaiknya Menlu Retno tidak perlu membahas urusan bilateral wilayah lain. Pompeo bicara keras ancaman China di Ansor, ini yang perlu dipertajam dari persepsi intelijen. Semoga bermanfaat, Pray Old Soldier.
*) Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen