Mohon tunggu...
Yudha Adi Putra
Yudha Adi Putra Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Tidak Pernah Mati

Penulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Doa Pagi Perempuan Penjual Nasi Bungkus

21 Januari 2023   05:00 Diperbarui: 25 Januari 2023   20:46 855
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

                Pergantian tahun terjadi, Yu Parmi masih rajin doa pagi. Entah apa yang didoakan, tak seorang pun dapat tahu. Bahkan, pendeta di gerejanya tak juga mengerti. Ketika ditanya, apa ada persoalan. Ia hanya tersenyum. Lalu pergi, seolah nanti takut dagangannya sudah ramai dikunjungi pembeli.

                "Paskah sudah mau tiba, besok ada Rabu abu ya?" ujar seorang pemuda. Yu Parmi mendengarnya. Ia jadi teringat akan anaknya.

                "Besok masih Selasa!" jawab seorang perempuan di samping pemuda itu. Bisa jadi, itu istrinya. Mereka pasangan muda ? Tapi, entahlah. Bukan itu yang penting buat Yu Parmi.

                "Kebaktian rencana di adakan di gereja ? Nanti kita dekorasi ya. Malam Selasa, jam tujuh. Ada yang siap bawa makanan ?" usul seorang pemuda lain. Yu Parmi mendekat. Ia memperhatikan mereka yang berbicara.

                "Nak, ibu mau memasak pecel lele besok Selasa malam. Apakah kalian mau ?" perkataan Yu Parmi seolah memecah keheningan pagi. Mereka, sebenarnya paling malas kalau giliran membawa makanan. Selain karena uang bisa untuk keperluan lain, membawa makanan itu merepotkan.

                "Apa benar, Bu ? Wah, kalau begitu. Besok pecel lelenya saya ambil ya Bu !" jawab pemuda itu. Ia senang. Semangat untuk mendekorasi perayaan Rabu abu mulai tumbuh. Bisa dibayangkan, akan ada pecel lele setelah angkat-angkat meja.

                "Tapi, Bu. Rumah ibu dimana ya ? Saya belum tahu. Hanya saja, saya sering melihat Ibu saat doa pagi. Kebetulan, saya mengiringi pujian," lanjut pemuda tadi.

                "Saya tinggal di belakang gereja. Ada rumah menghadap ke selatan. Nanti, bilang saja. Mau mencari Yu Parmi," dengan bersemangat, Yu Parmi menunjuk pada arah belakang gereja. Ia kemudian pergi, tak ingin warungnya kembali ramai pembeli. Tapi, dirinya belum siap di sana.

***

                Manto, anak pertama Yu Parmi bisa dibilang anak yang lugu dan mau menerima keadaan. Tapi, ia mudah marah kalau satu permintaannya tidak dituruti. Makan sehari tiga kali. Makanya, ketika sudah berkeluarga, istrinya kewalahan. Sampai, tak jarang mendengar keluhan istrinya. Kalau anaknya itu, kalau makan minta ganti terus. Sehari, ada tiga menu berbeda.

                "Saya kadang tidak tahan Bu. Seolah, pekerjaan saya hanya memasak untuknya saja," keluh menantu Yu Parmi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun