Kata "tolong" di depan kata perintah merupakan kata sederhana namun sangat besar sekali manfaatnya. Yang tadinya kata perintah menjadi kata permohonan. Bukankah itu suatu perbedaan yang sangat besar? Pasti anda setuju dengan pendapat ini.
Lalu kita bahas kata "Bapaknya sedang rapat, nanti telepon saja lagi" seperti kalimat yang diucapkan oleh operator di atas. Adakah anda menemui hal yang kurang baik dari ucapan tersebut? Â Jika anda sudah memahami kata "tolong" di depan kata perintah maka kalimat tersebut seyogyanya kurang baik diucapkan.
Kunjungi juga: Aneka Informasi Menarik Lainnya dengan Kilk Tautan ini.
Namun, apakah kalimat tersebutpun sudah baik jika sudah diselipi dengan kata tolong? Ternyata tidak. Masih ada suatu hal yang mengganjal. Apa itu? Rasa ingin menolong.
Dengan meminta lawan bicara untuk menelepon kembali dilain waktu ini menunjukkan anda tidak mempunyai rasa simpati, apalagi untuk mencapai empati sangat jauh sekali.Â
Mungkin anda tidak berpikir bahwa dia tidak punya pulsa lagi, mungkin anda tidak berpikir begitu susahnya orang lain untuk menghubungi karena line yang sibuk dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kasarnya, "lo yang butuh, lo yang mesti mengubungi. Titik".
Padahal, ada cara yang mudah sekali untuk mengubah kalimat tersebut yang berefek sangat besar bagi keadaan. Karena dengan kalimat tersebut, perasaan bisa berubah, kerugian bisa dihindari dan keuntungan bisa didapat. Bagaimanakah kalimat tersebut?
Coba perhatikan kalimat ini "Bapak sedang rapat, apakah ada pesan yang mau disampaikan, atau bapak/ibu mau menghubungi lagi nanti?" Dari kalimat ini adakah nada memerintah? Tidak ada bukan.Â
Adakah ada nada membantu? Ada. Begitu jauh bukan perbedaannya dengan kalimat "nanti hubungi saja lagi". Apalagi kalimat tersebut diganti dengan "Bapak sedang rapat, silahkan bapak/ibu tinggalkan nomor yang bisa dihubungi, nanti kami akan menghubungi balik" sebuah kalimat yang super sekali.
Bagaimana, pasti anda sudah faham dengan bahasan dalam tulisan ini. Kata perintah sebisa mungkin dihindari diantara sesama karyawan apalagi dengan pelanggan! Oleh karena banyak hal negatif yang dapat terjadi hanya karena sebuah kalimat perintah.
Jadi, seorang customer care sebisa mungkin untuk tidak menggunakan kata perintah terhadap pelanggannya. Karena tidak setiap pelanggan satu tipe dengan dirinya.Â