Toh begitu, wajah mereka tetap terlihat ceria. Bahkan, ketika kendaraan kami berjajar dengan truk yang mereka tumpangi karena bertepatan dengan traffic light menyala merah, saya sangat jelas melihat keceriaannya.
Ya, ini kesempatan bagi saya untuk memotretnya. Karena otak saya langsung menyambut bahwa ini bisa dibuat ilustrasi artikel untuk tema Kisah Inspiratif Ramadan dalam Samber Berhadiah THR 2023, Kompasiana.
Bahkan, artikelnya pun bisa bersumber dari pemandangan tersebut. Mengapa?
Karena, saya memandang saudara-saudara buruh tani yang di atas truk itu sedang berjuang untuk mempertahankan hidup. Sekalipun saya tidak mengetahui apakah mereka puasa atau tidak saat Ramadan ini.
Entah mereka menjalankan ibadah puasa atau tidak, yang pasti bagi saya mereka adalah sedang berjuang untuk diri mereka sendiri, atau bahkan untuk keluarga.
Tetapi, melihat raut wajah mereka (yang beberapa sudah tampak berusia), saya berani mengatakan bahwa perjuangan mereka itu tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keluarga. Artinya, di pundaknya keluarga berharap.
Kita bayangkan bahwa mereka sedang menjalankan ibadah puasa. Tentu, perjuangan ini lebih berat lagi, bukan?
Sebab, selain mereka berjuang untuk menahan nafsu, juga tetap bersemangat untuk berkarya karena di rumah keluarga sudah  menanti ada hasil yang dibawa pulang.
Sebagai tambahan, sekarang, lokasi bekerja buruh tani bisa saja jauh. Tidak hanya sebatas di desa atau kecamatan mereka berdomisili.
Â
Tetapi, bisa sampai keluar desa atau kecamatan, bahkan kabupaten mereka tinggal. Hal ini terjadi semata-mata untuk mempertahankan hidup. Ini sepengetahuan saya di daerah kami. Samakah di daerah Anda?