Merantau merupakan cerita tua yang selalu menyertai manusia sejak manusia ada di muka bumi. Dari sinilah mulai ada pemilahan antara pendatang dan penduduk asli.
Pendatang bukanlah penduduk asli. Begitu pula sebaliknya.
Namun acap kali defenisi ini terlihat samar-samar. Batasan yang diberikan pada kata pendatang selalu akan kadaluarsa dengan sendirinya jika telah mencapai batas waktu tertentu.Â
Kadang, karena seseorang sudah lama tinggal di suatu daerah akhirnya status pendatang hilang dan dianggap penduduk asli.Â
Meski demikian akar dan asal seseorang akan terus melekat kepadanya sebagai pengingat dari mana ia berasal.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi orang merantau. Orang merantau karena studi atau tugas belajar; orang merantau untuk mengubah hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya (faktor ekonomi); dan orang merantau karena bencana alam atau perang. Itulah segelintir alasan orang merantau dan menjadi pendatang di negeri orang.
Dari semua faktor yang menyebabkan orang merantau, faktor ekonomi menduduki peringkat tertinggi yang membuat orang harus merantau.
Laporan dari WHO 2018 mencatat bahwa setiap tahun ada peningkatan migrasi nasional di atas angka 3,3% dari total jumlah penduduk dunia. Data ini hanya menunjukkan migrasi yang melintasi batas negara. Migrasi domestik (perpindahan penduduk antar daerah atau pulau di suatu negara) memiliki cerita yang fantastis karena angkanya yang lebih besar dari itu.
Satu hal yang pasti bahwa menjadi migran atau pendatang bukanlah sesuatu yang gampang. Butuh effort ekstra agar kita tidak terhimpit oleh penduduk asli.Â
Banyak sudah kisah sukses dan juga kisah miris yang dialami oleh para migran.
Barangkali kami di NTT sudah sangat akrab dengan kisah miris para migran yang pergi sehat tapi pulang di dalam peti mati.Â