Mohon tunggu...
Nursalam AR
Nursalam AR Mohon Tunggu... Penerjemah - Penerjemah

Penerjemah dan konsultan bahasa. Pendiri Komunitas Penerjemah Hukum Indonesia (KOPHI) dan grup FB Terjemahan Hukum (Legal Translation). Penulis buku "Kamus High Quality Jomblo" dan kumpulan cerpen "Dongeng Kampung Kecil". Instagram: @bungsalamofficial. Blog: nursalam.wordpress.com.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perselingkuhan Kaum Intelektual

23 November 2020   19:42 Diperbarui: 23 November 2020   19:51 201
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Salah satu kesalahan utama dan terbesar rezim Orde Baru (Orba), dan rezim-rezim otoritarian lainnya di seluruh dunia dan dari zaman ke zaman, adalah menindas kemerdekaan berpikir rakyatnya.

Rezim Orba adalah sebuah sistem di mana otoritanianisme mendapatkan ruang hidupnya.

Setidaknya ada tiga hal yang diberangus di dalam sistem Orba menurut Yasraf Amir Piliang (2001), yaitu (1) daya kritis, (2) daya kreatif, dan (3) daya spiritualitas. Dengan tidak berkembangnya daya kritis maka tidak berkembang pula daya kreatif.

Masyarakat selalu diselimuti ketakutan untuk menyampaikan ide-ide baru. Ide-ide baru justru jatuh dan disumpalkan dari atas. Termasuk hegemoni spiritualitas dengan narasi tunggal.

Secara riil, rezim Orba konsisten melakukan hal tersebut, yang juga dilakukan rezim-rezim despotik di mana pun dan kapan pun, secara masif dan eskalatif terutama dengan kebijakan P-4 dan asas tunggal Pancasila.

Jean Baudrillard dalam In The Shadow of The Silent Majorities (1981) mengilustrasikan mesin-mesin pikiran rezim otoriter, seperti halnya Orba, menciptakan sebuah masyarakat yang mayoritas diam (silent majority), yang bagaikan sebuah sarang laba-laba, menangkap dan memamah apa pun yang disuguhkan kepada mereka oleh siapa pun termasuk oleh penguasa.

Lantas di mana posisi kaum intelektual?

Inilah ironi kaum intelektual di Indonesia, termasuk juga di belahan dunia lainnya.

Tidak jarang mereka berselingkuh dengan rezim despotik dan mencari "kerajaan di dunia ini" dengan berlindung di balik tampuk kekuasaan dan mempertaruhkan otoritas keilmuannya sebagai tameng kekuasaan berlabel "cendekiawan" beserta tameng-tameng lain yang berlabel "militer", "birokrat" maupun "pemuka agama" untuk melegitimasi kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak pro-publik dengan dalil-dalil ilmiah atau yang dibuat seolah-olah ilmiah.

Padahal sejarah peradaban menyiratkan bahwa musuh permanen penguasa yang despotik atau rezim otoritarian, yang membelenggu kemerdekaan jiwa, adalah kaum intelektual.

Mengapa?

Julien Benda menemukan jawabannya.

"Intelektual adalah orang-orang yang kegiatan hakikinya bukan mengejar tujuan-tujuan praktis. Kaum intelektual adalah orang-orang yang mencari kegembiraan dalam lapangan kesenian, ilmu pengetahuan atau teka-teki metafisika. Singkatnya, dalam hal-hal yang tidak menghasilkan keuntungan kebendaan, dan dengan demikian, dalam artian tertentu, kerajaannya bukanlah di dunia ini." (The Treasons of The Intellectuals, 1928)

Bagi Julien Benda, intelektual yang menyimpang dari kualifikasi tersebut adalah pengkhianat (traitor).

Kendati dalam beberapa hal pandangan Benda masih dapat diperdebatkan (debatable) namun esensi argumentasinya adalah betapa pentingnya kaum intelektual memegang teguh idealisme kemanusiaan dan etika otoritas keilmuannya.

Dalam istilah Edward Schills (1972), "Kaum cendekiawan adalah orang-orang yang mencari kebenaran."

Sebagai elemen elite masyarakat atau, menurut Soe Hok Gie, "the happy selected few", kaum intelektual yang persentasenya dalam masyarakat ibarat lapisan tipis kulit bawang memiliki tradisi, yang mencerminkan kematangan intelektual sebagai buah pendidikan yang dienyam, budaya literasi (budaya baca-tulis) yang tinggi, aktif membaca dan produktif menulis.

Inilah budaya yang merupakan puncak peradaban intelektual manusia; cerminan masyarakat yang matang. Bahkan negara-negara maju rata-rata memiliki budaya literasi yang kuat sebagai parameter tebal-tipisnya lapisan intelektual di suatu negeri.

Tingginya tingkat budaya literasi adalah simbol jiwa yang merdeka, merdeka berpikir, salah satunya.

Kemerdekaan berpikir adalah hak asasi umat manusia yang dianugerahkan Tuhan. Kekuasaan negara sekalipun tak berhak merenggut kemerdekaan tersebut.

"Orang tidak dapat dihalang-halangi untuk memikirkan apa saja yang ia kehendaki selama ia menyembunyikan buah pikirannya. Pekerjaan otak hanya dibatasi oleh batas-batas pengalamannya dan daya khayalnya," tulis J.B. Buri dalam Sejarah Kemerdekaan Berpikir (1963).

Kemerdekaan berpikir secara inheren merupakan satu mata rantai tak terpisahkan dengan kemerdekaan berpendapat. Ekspresi dari sebuah pemikiran adalah pendapat yang tercurah melalui lisan atau tulisan. Terlebih manusia secara naluriah mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi dan menyalurkan gagasan-gagasannya.

Dan kesalahan Orba, yang berujung pada kehancurannya, adalah menindas kebebasan berpikir dan bersuara atau berpendapat. Tidak semestinya juga rezim pemerintah selanjutnya menempuh jalan yang sama jika tidak ingin berakhir pada ujung kemusnahan yang sama.

Toh, rezim otoriter Orba sejatinya adalah kata sifat, bukan kata benda yang mati, yang hanya ada di suatu kurun waktu tertentu saja.

Ia dapat muncul dan berulang kapan saja, di mana saja, dan menjelma menjadi apa pun dan siapa pun.

Jakarta, 23 November 2020

Baca Juga:

1. https://www.kompasiana.com/nursalam-ar/5fb98ccbd541df43b6489432/bersedekahlah-tuhan-jamin-rejekimu

2. https://www.kompasiana.com/nursalam-ar/5fba58998ede485de006f453/empat-kiat-menjaring-jodoh

3. https://www.kompasiana.com/nursalam-ar/5fb783a337f4b90ae14ca652/saat-entong-sayang-dirisak-orang

4. https://www.kompasiana.com/nursalam-ar/5fb76c3ad541df2bdb4e0fa2/aneka-cerita-anak-home-schooling

5. https://www.kompasiana.com/nursalam-ar/5fad424f8ede4808c9681a32/tiga-jurus-menulis-dari-para-maestro

6. https://www.kompasiana.com/nursalam-ar/5fad26b7d541df7f07465e22/kenangan-hari-pertama-menjadi-ayah

7. https://www.kompasiana.com/nursalam-ar/5f9ef562d541df19eb7279f3/warkop-bernama-kompasiana

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun