"Siapa yang naruh piring disini? Bukan tempat piring disini. Rin, ayo bersihkan, disapu lalu dipel sampai kesat. Dino, jangan lari-larian terus. Lantainya licin. Kalau jatuh, bisa hilang hidungmu. Ayah! Jangan habiskan kacangnya, masih ada tamu, mau dikasih apa? Mama capek mau goreng-goreng lagi. Ayah enak saja tinggal ngabisin."
Nah, kan sekeluarga kena semprot semuanya. Bukan hanya aku seorang, ayah dan adik yang tidak tahu apa-apa kena juga. Â Ternyata yang menaruh piring disitu bukan orang lain, melainkan Mama.
Mamaku, layaknya emak-emak Indonesia pada umumnya, galaknya melebihi macan. Siapa yang berani menghadapinya? Â Mending menghindar daripada terlibat masalah dengannya. Cari aman saja. Meski tindakannya sering tidak masuk akal, seperti sein kiri tapi belok kanan.
Bagaimana dengan ayahku? Meskipun badannya lebih besar dan lebih gendut daripada Mama, percayalah ayah termasuk dalam komunitas ISTI Â (Ikatan Suami Takut Istri). Ayah yang selalu bekerja keras demi anak istri itu menyerahkan gajinya bulat-bulat buat Mama. Buktinya kalau aku minta apa-apa kepadanya, selalu bilang "Lha wong uangnya sudah tak kasih Mama semua."
Seperti semua orang di rumah ini, termasuk ayah yang kepala keluarga tidak pernah membantah jika Mama sudah bertitah. Hanya ada dua pasal aturan di rumah ini. Pasal satu isinya Mama selalu benar. Pasal dua isinya ingatlah pasal satu.
Meskipun begitu, Mama adalah orang yang paling berjasa di dunia ini. Bagi Mama keluarga adalah semesta baginya. Apapun akan dilakukannya demi kesehatan, keutuhan, kedamaian dan kesejahteraan keluarga dengan segenap jiwa dan raganya. Maka tak ada alasan untuk tidak menyayanginya, meskipun terkadang sifatnya begitu menjengkelkan.
"Riiinnn ..."
Suara mamaku itu. Fals, tidak ada merdu-merdunya.
"Ayok cepet makan, mama sudah buat sambel penyet tempe kesukaanmu. Cepetan! Mumpung nasinya masih anget."
Mamaku memang menjengkelkan, tahu saja jika aku sedang lapar.
I Love U Mama.