Mohon tunggu...
Nugraha Wasistha
Nugraha Wasistha Mohon Tunggu... Penulis - Penulis lepas

Penggemar bacaan dan tontonan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kisah Sedih Sang Mahapatih

7 Juli 2021   11:48 Diperbarui: 21 Juli 2021   20:27 649
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Nyai Sendang tak tahu harus menjawab apa. Baginya, membicarakan keluarga keraton adalah tabu. Sesuatu yang tak terbayangkan. Tapi di sisi lain, dia juga melihat betapa suaminya sangat ingin bercerita soal itu. Seolah membicarakan masalah pribadi. Seolah....

Seolah suaminya, entah bagaimana, ikut terlibat dalam persoalan tersebut.

Nyai Sendang sedang merenungkan semua itu saat dia mendengar derap kuda mendekat. Seketika dia merasa was-was. Kuda merupakan tunggangan kaum berada. Tidak biasanya berada di desa jelata ini. Nyai lebih berdebar lagi ketika mengetahui sosok-sosok yang menghampiri dia dan suaminya.

Ada lima orang sangar, empat di antaranya bersenjata. Masing-masing senjatanya berbeda. Cambuk besar, tombak panjang, pedang dan gada. Orang kelima, yang nampaknya pimpinan mereka, justru tak membawa senjata. Tapi sikapnya kelihatan paling angkuh. Dia menyebut dirinya 'utusan orang penting' tanpa menjelaskan siapa yang dimaksud.

"Kau pintar sekali memilih tempat pembuangan," kata si utusan sambil menyeringai menyebalkan. "Perlu berbulan-bulan menemukanmu. Dan entah sudah berapa banyak yang kami paksa buka mulut."

Kata-kata itu terang saja membuat Nyai Sendang makin khawatir. Tapi suaminya menenangkan. "Pergilah ke dalam rumah. Jangan keluar sebelum aku panggil. Tak perlu kau cemas. Aku akan menangani ini."

Nyai Sendang agak terkejut. Suaminya berkata dengan tutur dan sikap yang belum pernah dia perlihatkan sebelumnya. Begitu berwibawa. Begitu berkuasa. Sekalipun tetap ingin mendampingi suaminya, tapi kekuatan kata-kata itu terdengar seperti sabda dewata. Tanpa berkata apa-apa lagi, Nyai Sendang mengangguk dan tergesa pergi.

"Kami tahu siapa dirimu," kata si utusan setelah Nyai Sendang menyingkir. "Kau adalah mantan Mahapatih yang diusir Maharaja. Kami juga tahu bahwa dia sebenarnya adalah anakmu. Bukan begitu, Gajah Mada?"

Suami Nyai Sendang tidak memperlihatkan emosi apa-apa. Matanya mengamati si utusan seperti harimau memandangi seekor tikus. Baru setelah itu dia berkata, "Baiklah, kau tahu siapa aku sebenarnya. Jadi kuberi waktu sepuluh tarikan nafas untuk bicara, sebelum aku membunuh kalian berlima."

Keempat pengawal si utusan nampak seperti tersengat. Marah. Tangan mereka bergerak ke senjata masing-masing. Tapi si utusan hanya tersenyum mengejek, lalu berkata, "Sebelum kau melakukan itu, coba lihat dulu oleh-oleh yang kubawa ini!"

Si utusan melempar benda kecil berkilauan. Gajah Mada menangkapnya di genggaman tangan. Benda itu ternyata cincin emas berhias kepala Garuda - yang merupakan perhiasan utama Maharaja Hayam Wuruk. Gajah Mada seketika terbakar amarah. Dan itu nampak di wajahnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun