Ia memutuskan untuk kabur dari rumah, ia tak mau menikah dengan anak teman papahnya. Ia hanya bisa menyewa kontrakan kecil, karena ayahnya memblokir kartu ATM setelah tau kepergiannya. Kehidupannya berubah drastis, dulu apapun yang ia inginkan pasti didapatkan, kini Sakura harus bekerja keras untuk hidup, ia berusaha mengumpulkan uang untuk makan, kontrakan dan pembayaran semester dari pesanan pembuatan kartu undangan pernikahan online.
Namun, setelah enam bulan berlalu ia mendapat kabar bahwa orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Kabar ini sangat memukul perasaan Sakura, apalagi saat tau bahwa ayahnya telah lama mengalami kebangkrutan dan rumahnya disita. Sakura menyalahkan dirinya,"Mungkinkah ini karena penolakanku atas penawaran papah waktu itu?" pikirnya.
Ia menangis tersedu-sedu, rindunya yang ia tahan selama ini tak bisa terobati. Ayah dan ibunya telah pergi darinya.
Suara ketukan pintu terdengar, Sakura beranjak dari tempat tidur dan mengusap air mata yang tersisa dipipinya. Lalu Sakura membuka pintu, laki-laki bernama Sagha Pratama yang dulu ia kagumi dan telah ia lepaskan berdiri didepan pintu kontrakanya.
"Kak Sagha?" Silahkan duduk. Ucap Sakura sambil terbata-bata, ia kaget melihat lelaki idamannya berada di depan matanya.
" Sakura, aku mencarimu dimana-mana, kenapa kamu menolak untuk menikahiku? Aku tak bisa berpaling sebelum tau alasanmu, aku berharap kamu bisa bersamaku, aku senang ketika tau kamu masuk Islam"
"Hah? Menolak kak Sagha?" ucap Sakura terkejut, bahkan ia tak tau kapan Sagha melamarnya.
"Aku anak teman papahmu, kamu tak tau?" Jawabnya
" Setau aku, teman papah non-muslim " ucap Sakura sambil menggaruk tengkuk kepalanya tanda kebingungan
"Kami udah masuk islam sejak lama" ucapnya.
"Apakah kamu mau menikah denganku? Aku ingin mendengar jawaban darimu secara langsung" lanjutnya