Ada pemandangan berbeda di lapangan sekolah hari ini.
Tempat yang seharusnya digunakan untuk aktivitas olahraga, malah dipenuhi oleh laki laki berjas hitam dan perempuan berkebaya.
Mereka semua bahagia.
Memang sudah seharusnya, hari ini adalah momen kelulusan yang dinantikan.
Betapa bahagianya mereka.
Aku yang sedang duduk di lorong kelas melihat banyak sekali senyuman dan mungkin kesedihan di kerumunan orang orang di lapangan. Aku duduk tanpa ada tujuan. Sampai pada akhirnya dia datang.
"Hei, kamu kok datang?" Ucap perempuan berkebaya yang menghampiri ku.Â
"Memangnya tidak boleh? Guru saja tidak melarang." Aku berdiri dan membalas nya dengan senyuman.
"Hehe, maaf. Tapi aku ga expect aja, setelah yang terjadi kemarin ... Kamu tetap datang hari ini."
"Yang berlalu biarkanlah berlalu. Kita harus melihat ke depan kan."
"Kamu benar."
Canggung.Â
Sunyi.
Aku harus memecah kesunyian ini.
"Selamat ya kak atas kelulusannya." Sepertinya ini kalimat yang tepat.
"Terimakasih banyak." Dia melihat ke arah ku sambil menepuk pundak ku.
"Dan terimakasih karena kamu sudah jujur kemarin ya." Dia sepertinya ingin melanjutkan pembicaraan.
"Sama sama kak. Lagipula mulai hari ini, kita bakal susah ketemu lagi. Bisa saja ini jadi hari terakhir kita bisa bertemu. Jadi, tak ada penyesalan di diriku ketika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, kak."
"Ihh, kesannya jadi sedih banget tau. Kita masih bisa kontak-an kok." Dia ingin mencairkan suasana ya. "Lagipula, kamu pernah bilang kalau kamu bukan pujangga cinta. Tapi kenapa hari ini puitis banget?" Dia melanjutkan kalimatnya.
"Cinta bisa merubah seseorang, mungkin itu alasannya."
"Mulai hari ini banyak hal yang berubah ya."
Benar.
Mulai hari ini dia tidak akan lagi bersekolah di sini.
Mulai hari ini dia tidak lagi menjadi Kakak kelas ku.
Mulai hari ini aku akan jarang melihat wajahnya.
Dan, mungkin ...
Mulai hari ini perasaan kami akan berbeda. Mungkin aku akan jatuh cinta dengan orang lain dan dia juga akan jatuh cinta dengan orang lain atau dia jatuh cinta dengan orang lain sedangkan aku tetap masih jatuh di buaian cinta nya. Cuman ada dua kemungkinan itu.
Tapi, aku tidak akan mencoba menjauhi nya. Aku akan menjaga kondisi diantara kami berdua tetap seperti ini. Hingga kami terpisah sendiri pada akhirnya.
"Eh, ayo kita foto foto dulu." Seorang perempuan berkebaya lain menghampiri kami dan membawa lawan bicara ku dengannya.
"Eh? Bentar."Â
Kakak kelas yang ku cintai itu berhenti dan menghadap ku.
"Aku bahagia mengenalmu." Itu ucapan terakhir nya lalu dia kembali ke kerumunan temannya.
"Aku juga, kak." Aku membalas dengan senyuman terbaik ku, dan dia juga tersenyum.
Mereka semua bahagia.
Memang sudah seharusnya, hari ini adalah momen kelulusan yang dinantikan.
Betapa bahagianya mereka.
*Deg
Aku tidak tahu itu apa. Apa itu suara hentakan sepatu nya yang kembali ke lapangan dan menjauhi ku atau malah suara detak jantung ku yang berhenti sekejap karena mengetahui dia pergi dari ku.
Mereka semua bahagia.
Memang sudah seharusnya, hari ini adalah momen kelulusan yang dinantikan.
Betapa bahagianya mereka.
Aku yang sedang duduk di lorong kelas melihat banyak sekali senyuman dan mungkin kesedihan di kerumunan orang-orang di lapangan,
Tidak.
Aku lah yang sedih diantara kerumunan orang orang itu.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI