Makronutrien: Nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K), serta kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan sulfur (S).
Unsur hara mikro : Zat seperti seng (Zn), besi (Fe), mangan (Mn) dan tembaga (Cu), dibutuhkan dalam jumlah kecil tetapi sangat penting bagi fungsi fisiologis tanaman.
Ketidakseimbangan unsur hara dapat menyebabkan defisiensi atau keracunan, sehingga mengurangi hasil panen. Pengelolaan unsur hara yang benar mencakup langkah-langkah berikut:
Gunakan pupuk berdasarkan pengujian tanah: Sebelum pemberian pupuk, pengujian tanah diperlukan untuk menentukan status unsur hara. Hal ini membantu petani menyediakan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman.
Rotasi tanaman: Rotasi tanaman mencegah habisnya unsur hara dalam tanah. Misalnya, menanam kacang-kacangan setelah panen biji-bijian dapat meningkatkan kadar nitrogen tanah.
Aplikasi pupuk hayati: Pupuk hayati yang mengandung mikroorganisme seperti Rhizobium atau mikoriza secara alami dapat meningkatkan jumlah unsur hara yang tersedia di dalam tanah.
Evaluasi limbah pertanian: Limbah seperti sekam padi atau jerami dapat diubah menjadi pupuk organik kaya nutrisi.
Keseimbangan nutrisi tidak hanya penting untuk produktivitas tanaman tetapi juga untuk perlindungan lingkungan. Penggunaan pupuk yang tidak terkontrol dapat mencemari air tanah dan menyebabkan eutrofikasi air.
Pertanian berkelanjutan melalui pengelolaan tanah
Mengelola pH tanah, bahan organik, dan unsur hara mempunyai implikasi luas terhadap keberlanjutan pertanian. Ketiga aspek ini saling bergantung, peningkatan satu faktor dapat meningkatkan faktor lainnya. Misalnya, bahan organik yang cukup tidak hanya meningkatkan kapasitas penyimpanan air tanah, tetapi juga membantu menstabilkan pH dan meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara.
Sistem pertanian berkelanjutan memerlukan pendekatan terpadu dalam pengelolaan tanah. Praktik seperti agroforestri, pertanian konservasi, dan penggunaan teknologi berbasis data dapat membantu petani mengoptimalkan pengelolaan lahan.