Langit merah menjelang malam,
Di sela-sela awan yang tersipu.
Aku berdiri di ambang senja,
Memandang jauh ke ufuk yang kabur.
Di dalam hati, gelombang emosi berkecamuk,
Sebuah keheningan yang menusuk ke dalam.
Aku merasa seperti burung yang terbang,
Tapi terhenti di tepi langit yang tak berujung.
Dalam angin yang berbisik,
Kutangkap rindu yang terhempas.
Kupercaya, di balik awan kelabu,
Ada sinar mentari yang masih tersimpan.
Aku berjalan melintasi jejak-jejak waktu,
Menemukan diriku dalam kekosongan.
Tapi hatiku terbuka, menghadap mentari,
Mengubah kegelapan menjadi warna-warna yang baru.
Di antara jarak dan keheningan,
Aku merenungkan langkah-langkah kita.
Mengapa kita saling terpisah,
Di tengah samudera yang tak berujung?
Namun aku tak sendiri,
Dalam lautan rasa yang berdesir.
Kukenang senyummu yang menghangatkan,
Di tengah dinginnya malam yang sepi.
Biarlah puisi ini menjadi doa,
Untuk meredakan rindu yang menggebu.
Dan kita, seperti bintang-bintang di angkasa,
Terhubung dalam keabadian yang tak terucap.
Di ambang senja ini, aku merindukan,
Kehadiranmu yang tak terucapkan.
Dalam keheningan, kita merajut,
Cerita-cerita yang hanya kita yang tahu.
oleh [Mustikawati)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI