Mohon tunggu...
Mustafa Ismail
Mustafa Ismail Mohon Tunggu... Editor - Penulis dan pegiat kebudayaan

Penulis, editor, pegiat kebudayaan dan pemangku blog: ruangmi.my.id | X/IG @moesismail

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sudah Delapan Lebaran

17 Agustus 2012   20:39 Diperbarui: 25 Juni 2015   01:36 168
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Cerpen Mustafa Ismail

Ibu tiba-tiba murung dan menjadi begitu pendiam. Itu mulai terjadi beberapa hari setelah memasuki Ramadhan. Wajahnya yang mengguratkan garis-garis ketuaan terlihat makin jelas. Ia tidak bersemangat melakukan apa pun. Makan pun tidak lagi begitu lahap. Terkadang, ia menyendiri di teras. Matanya menerawang.

Gelisah juga aku menyaksikan perubahan yang terjadi pada ibu. Aku menjadi serba salah. Adakah kata-kataku, atau mungkin tingkah lakuku, yang membuat ibu tersinggung. Rasanya tidak. Aku merasa tidak pernah membantah, apalagi berdebat dengan ibu. Aku tahu, ibu paling tidak suka didebat.

Dalam soal ini, ibu memang begitu kaku. Pendapatnya selalu harus dibenarkan oleh anak-anaknya. Padahal, tidak selalu apa yang dikatakan ibu sesuai dengan kenyataan sekarang. “Ibu selalu memakai ukuran-ukuran pada masanya, bukan ukuran sekarang,” kata abangku suatu kali.

Abang memang sering tidak sepaham dengan ibu. Ia orang yang sangat rasional dan selalu melihat persoalan dengan logika. Kalau tidak masuk akal, ia akan menolaknya. Misalnya, ibu kadang suka percaya pada orang pintar. Itu ditolak mentah-mentah oleh abang.

“Kalau sakit, kita harus ke dokter. Kalau haus minum. Kalau lapar ya makan. Bukan ke orang pintar. Orang pintar aja kalau haus minum dan lapar ia makan,” kata abang, saat ibu sering sakit. Ibu menduga ada yang mengerjainya ibu secara gaib.

Mendengar kata-kata abang, ibu marah besar. Ia menjadi suka menyendiri. Murung. Terkadang, ia menangis di kamar. Aku, sebagai anak perempuan satu-satunya dan tinggal bersama ibu, menjadi serba salah. “Di mata abangmu, semua yang ibu lakukan salah,” kata ibu.

Sebetulnya, aku ingin membenarkan kata-kata abang. Namun, jika itu kulakukan akan membuat ibu makin sedih. Paling-paling aku mengatakan, “Abang kan punya pikirannya sendiri. Pendapat orang kan tidak selalu sama.”

“Coba bayangkan, sudah berkali-kali ke puskesmas, sakit ibu tidak sembuh-sembuh. Dokternya sampai bingung,” tutur ibu lagi.
“Abang mau mengajak ibu ke dokter spesialis.”
“Ah, sama saja.”

Kalau sudah begitu, tidak ada lagi yang bisa mendebat ibu. Itu adalah kata penegas sekaligus penutup agar orang yang berbicara dengannya diam. Aku sangat paham akan hal itu.

Biasanya, marah ibu pada abang paling lama dua hari. Setelah itu, sudah baikan. Seingatku, hanya sekali ibu marah pada abang sampai seminggu. Waktu itu ibu mengajak abang untuk berziarah ke makam ayah. Tapi abang tidak bisa, sedang ada pekerjaan. “Kapan kamu mau menengok orang tuamu. Kapan kamu berdoa untuk orang tuamu. Diajak tidak pernah bisa,” kata ibu lantang. Wajahnya memerah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun