Mohon tunggu...
Mushollih Abdul Gofar
Mushollih Abdul Gofar Mohon Tunggu... Guru - Pengajar

Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, program studi Syariah Islamiah, dan alumnus Pusat Kajian Ekonomi Islam (PAKEIS) Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) organisasi wilayah Kairo. Mahasiswa program magister ilmu Al-Qur’an dan tafsir di universitas Perguruan Tinggi Ilmu AlQur’an (PTIQ) yang tergabung dalam program pendidikan kaderisasi ulama masjid istiqlal (PKUMI)

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Was-was dalam Kehidupan Sehari-hari: Mengatasi Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

22 Juli 2024   17:00 Diperbarui: 15 Agustus 2024   08:53 149
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://images.app.goo.gl/hu5BqEAYRjkWjogK7

Was-was dalam Kehidupan Sehari-hari: Mengatasi Obsessive Compulsive Disorder (OCD)  Melalui Pemahaman Tafsir

Was-was atau Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan kecemasan yang ditandai dengan pikiran berulang yang mengganggu (obsesi) dan perilaku kompulsif untuk menenangkan kecemasan tersebut (Al-Zahrani, 2005: 87). Dalam kehidupan sehari-hari, was-was dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti ketakutan berlebihan akan kuman yang mendorong seseorang untuk mencuci tangan berulang kali, atau kekhawatiran terus-menerus apakah pintu sudah terkunci yang menyebabkan seseorang memeriksa kunci berkali-kali (Purwanto, 2007: 45).

Pemahaman tafsir Al-Qur'an dapat membantu mengatasi was-was ini. Misalnya, dalam Surah An-Nas, Allah SWT mengajarkan kita untuk berlindung dari godaan setan yang sering membisikkan was-was (Shihab, 2002: 710). Tafsir ini menunjukkan bahwa was-was bukanlah sesuatu yang berasal dari diri kita, melainkan godaan eksternal yang dapat kita lawan.

Pendekatan kognitif-perilaku yang dipadukan dengan pemahaman agama telah terbukti efektif dalam mengatasi OCD (Abramowitz et al., 2012: 375). Dengan memahami asal usul was-was dan mengembangkan strategi untuk menghadapinya, individu dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang dan produktif.

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) dan perasaan was-was memiliki keterkaitan yang erat dalam manifestasi gangguan kecemasan. OCD ditandai dengan adanya obsesi, yaitu pikiran atau bayangan yang muncul berulang-ulang dan tidak diinginkan, serta kompulsi, yaitu perilaku ritualistik yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan (Nevid et al., 2005: 168). Was-was, dalam konteks ini, dapat dipahami sebagai manifestasi dari obsesi dalam OCD.

Dalam perspektif Islam, was-was sering dikaitkan dengan godaan setan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa was-was adalah bisikan-bisikan jahat yang ditimbulkan oleh setan untuk mengganggu ketenangan hati manusia (Al-Jauziyyah, 2005: 243). Hal tersebut sejalan dengan gejala OCD di mana penderita seringkali merasa terganggu oleh pikiran-pikiran yang tidak diinginkan.

Gejala OCD dapat sangat mempengaruhi kehidupan penderitanya. Hawari mengemukakan bahwa penderita OCD sering mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari karena waktu dan energi yang terbuang untuk melakukan ritual kompulsif. Misalnya, seseorang dengan obsesi kebersihan mungkin menghabiskan berjam-jam untuk membersihkan rumah, mengganggu produktivitas dan interaksi sosialnya. (Hawari, 2001: 75)

Pemahaman akan hubungan antara OCD dan was-was ini penting untuk pengembangan intervensi yang efektif. Pendekatan terapi yang mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam penanganan OCD (Basit, 2017: 92).

Psikologi modern telah mengembangkan berbagai pendekatan dan metode untuk menangani Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Salah satu pendekatan yang paling efektif adalah Terapi Kognitif-Perilaku (CBT). CBT berfokus pada mengubah pola pikir dan perilaku yang terkait dengan OCD (Purwanto, 2007: 128). Dalam CBT, pasien diajari untuk mengenali pikiran obsesif mereka dan mengembangkan strategi untuk mengelolanya.

Eksposur dan Pencegahan Respons (ERP) adalah teknik spesifik dalam CBT yang telah terbukti sangat efektif untuk OCD. Dalam ERP, pasien secara bertahap dihadapkan pada situasi yang memicu kecemasan tanpa melakukan ritual kompulsif (Hawari, 2001: 89). Ini membantu pasien belajar bahwa kecemasan akan berkurang tanpa melakukan kompulsi.

Pendekatan farmakologis juga sering digunakan dalam penanganan OCD. Obat-obatan seperti Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) telah terbukti efektif dalam mengurangi gejala OCD (Nevid et al., 2005: 172).

Dalam konteks Islam, beberapa psikolog mengintegrasikan pendekatan spiritual dengan terapi konvensional. Misalnya, penggunaan zikir dan doa sebagai bentuk relaksasi dan pengalihan dari pikiran obsesif (Al-Zahrani, 2005: 156). Pendekatan holistik ini bertujuan untuk menyeimbangkan kesehatan mental dan spiritual pasien.

Selanjutnya terapi Penerimaan dan Komitmen (ACT) adalah pendekatan yang lebih baru yang mengajarkan pasien untuk menerima pikiran obsesif mereka tanpa bereaksi terhadapnya (Basit, 2017: 105). Sehingga dapat membantu mengurangi penderitaan yang disebabkan oleh usaha untuk mengendalikan atau menghilangkan pikiran obsesif.

Al-Qur'an memberikan panduan yang berharga dalam menghadapi was-was dan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Salah satu ayat yang paling relevan adalah Surah An-Nās (114:1-6):

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَٰهِ النَّاسِ، مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari godaan setan yang membisikkan was-was ke dalam hati manusia (Ibn Kathir, 1999: 714). Ini menunjukkan bahwa was-was bukanlah bagian intrinsik dari diri kita, melainkan gangguan eksternal yang dapat kita lawan.

Al-Qurthubi menafsirkan bahwa "al-waswās al-khannās" merujuk pada setan yang mundur ketika seseorang mengingat Allah (Al-Qurthubi, 2006: 638). sehingga menyiratkan bahwa dzikir dan mengingat Allah dapat menjadi strategi efektif dalam melawan was-was.

Dalam konteks OCD, ayat ini dapat dipahami sebagai dorongan untuk tidak menyerah pada pikiran obsesif. As-Sa'di menegaskan bahwa memohon perlindungan Allah adalah langkah pertama dalam melawan was-was (As-Sa'di, 2002: 954).

Integrasi antara pendekatan psikologis dan tafsir Al-Qur'an menawarkan perspektif holistik dalam mengatasi was-was dan OCD. Al-Qur'an memberikan panduan spiritual, seperti dalam Surah Al-A'raf ayat 201:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya."

Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas sebagai petunjuk untuk mengingat Allah ketika digoda oleh was-was (Ibn Katsir, 1999: 487). Pendekatan ini sejalan dengan teknik mindfulness dalam terapi kognitif-perilaku (CBT) untuk OCD, di mana pasien diajari untuk mengenali dan tidak terlalu merespons pikiran obsesif (Purwanto, 2007: 156).

Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin menyarankan untuk mengabaikan was-was dan fokus pada tujuan utama ibadah (Al-Ghazali, 2011: 103). Ini mirip dengan teknik Exposure and Response Prevention (ERP) dalam psikologi modern, di mana pasien dilatih untuk menghadapi kecemasan tanpa melakukan ritual kompulsif (Hawari, 2001: 92).

Integrasi tersebut dapat diterapkan melalui terapi yang menggabungkan zikir dan doa sebagai bentuk relaksasi, bersama dengan teknik CBT. Misalnya, pasien dapat diajarkan untuk merespons pikiran obsesif dengan membaca ta'āwudz, seperti yang dianjurkan dalam Surah An-Nas, sambil menerapkan teknik cognitive restructuring (Al-Zahrani, 2005: 178).

Melalui pendekatan terpadu ini tidak hanya mengatasi gejala OCD, tetapi juga memperkuat spiritualitas pasien, memberikan makna dan tujuan yang lebih dalam untuk penyembuhan mereka (Basit, 2017: 115).

Daftar Pustaka:

Abramowitz, J.S., Deacon, B.J., & Whiteside, S.P. (2012). Exposure therapy for anxiety: Principles and practice. New York: Guilford Press.

Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. (2011). Ihya 'Ulum Ad-Din. Kairo: Dar Al-Hadith.

Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. (2005). Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. (2006). Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.

Al-Zahrani, Muhammad. (2005). Konseling Terapi. Jakarta: Gema Insani Press.

As-Sa'di, Abdurrahman bin Nashir. (2002). Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.

Basit, Abdul. (2017). Konseling Islam. Jakarta: Kencana.

Hawari, Dadang. (2001). Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ibn Kathir, Ismail bin Umar. (1999). Tafsir Al-Qur'an Al-'Azim. Riyadh: Dar Taybah li An-Nasyr wa At-Tawzi'.

Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., & Greene, Beverly. (2005). Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga.

Purwanto, Yadi. (2007). Psikologi Kepribadian: Integrasi Nafsiyah dan 'Aqliyah Perspektif Psikologi Islami. Bandung: Refika Aditama.

Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun