Mohon tunggu...
Mushollih Abdul Gofar
Mushollih Abdul Gofar Mohon Tunggu... Guru - Pengajar

Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, program studi Syariah Islamiah, dan alumnus Pusat Kajian Ekonomi Islam (PAKEIS) Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) organisasi wilayah Kairo. Mahasiswa program magister ilmu Al-Qur’an dan tafsir di universitas Perguruan Tinggi Ilmu AlQur’an (PTIQ) yang tergabung dalam program pendidikan kaderisasi ulama masjid istiqlal (PKUMI)

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Was-was dalam Kehidupan Sehari-hari: Mengatasi Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

22 Juli 2024   17:00 Diperbarui: 15 Agustus 2024   08:53 149
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://images.app.goo.gl/hu5BqEAYRjkWjogK7

Dalam konteks Islam, beberapa psikolog mengintegrasikan pendekatan spiritual dengan terapi konvensional. Misalnya, penggunaan zikir dan doa sebagai bentuk relaksasi dan pengalihan dari pikiran obsesif (Al-Zahrani, 2005: 156). Pendekatan holistik ini bertujuan untuk menyeimbangkan kesehatan mental dan spiritual pasien.

Selanjutnya terapi Penerimaan dan Komitmen (ACT) adalah pendekatan yang lebih baru yang mengajarkan pasien untuk menerima pikiran obsesif mereka tanpa bereaksi terhadapnya (Basit, 2017: 105). Sehingga dapat membantu mengurangi penderitaan yang disebabkan oleh usaha untuk mengendalikan atau menghilangkan pikiran obsesif.

Al-Qur'an memberikan panduan yang berharga dalam menghadapi was-was dan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Salah satu ayat yang paling relevan adalah Surah An-Nās (114:1-6):

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَٰهِ النَّاسِ، مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari godaan setan yang membisikkan was-was ke dalam hati manusia (Ibn Kathir, 1999: 714). Ini menunjukkan bahwa was-was bukanlah bagian intrinsik dari diri kita, melainkan gangguan eksternal yang dapat kita lawan.

Al-Qurthubi menafsirkan bahwa "al-waswās al-khannās" merujuk pada setan yang mundur ketika seseorang mengingat Allah (Al-Qurthubi, 2006: 638). sehingga menyiratkan bahwa dzikir dan mengingat Allah dapat menjadi strategi efektif dalam melawan was-was.

Dalam konteks OCD, ayat ini dapat dipahami sebagai dorongan untuk tidak menyerah pada pikiran obsesif. As-Sa'di menegaskan bahwa memohon perlindungan Allah adalah langkah pertama dalam melawan was-was (As-Sa'di, 2002: 954).

Integrasi antara pendekatan psikologis dan tafsir Al-Qur'an menawarkan perspektif holistik dalam mengatasi was-was dan OCD. Al-Qur'an memberikan panduan spiritual, seperti dalam Surah Al-A'raf ayat 201:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya."

Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas sebagai petunjuk untuk mengingat Allah ketika digoda oleh was-was (Ibn Katsir, 1999: 487). Pendekatan ini sejalan dengan teknik mindfulness dalam terapi kognitif-perilaku (CBT) untuk OCD, di mana pasien diajari untuk mengenali dan tidak terlalu merespons pikiran obsesif (Purwanto, 2007: 156).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun