Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) ini bukan didasari pada euforia negara-negara maju. Menurut Pongki Wijaya dari Bank Indonesia, e-commerce diharapkan dapat menjaga dan  meningkatkan kelancaran sistem pembayaran di Indonesia. Atau, menurut istilah beliau sendiri; elektronifikasi; kebijakan mengubah banyak hal dari tunai menjadi non-tunai?
Pada praktiknya, ada tiga aspek yang benar-benar diperhatikan dan menjadi marwah dalam penggunaan uang non-tunai. Satu, meningkatkan akses keuangan yang lebih luas karena dapat menjangkau apa saja dan di mana saja. Dua, lebih nyaman karena setiap orang memiliki askes yang mudah dalam bertransaksi apapun. Ketiga, uang elektronik tergintegrasi dengan sistem-sistem finansial yang telah sebelumnya ada.
Sekedar gambaran, setiap pemakaian 10% layanan non-tunai, ada peningkatan pembelanjaan dan daya dorong belanja sebesar 5%. Ini menunjukkan ada hubungan linear yang kuat antara e-commerce dan tingkat pencapaian ekonomi.
Dalam talkshow ‘Scale Up dengan E-Commerce’ yang diselenggarakan Bank Indonesia dengan narasumber yang terdiri dari Bank Indonesia, BRI, Mandiri, BNI, dan Kaskus, mereka mengamini bahwa semakin banyak transaksi non-tunai maka semakin tinggi pula PDB (Pendapatan Domestik Bruto) suatu negara.
Tambah lagi, berdasarkan hitung-hitungan narasumber, setiap e-commerce yang bernilai 130 miliar USD, akan berkontribusi pada PDB sebesar 14% khusus di Indonesia,
Alasannya? Karena pihak-pihak perbankan dan pengelolan otoritas sistem keuangan dapat menyalurkan uang tunai kembali ke masyarakat dalam jumlah yang lebih besar untuk pemanfaatan yang sebesar-besarnya.
Uang yang masuk, bisa masuk langsung ke sistem pembayaran resmi atau tunai ke dalam tubuh perbankan. Jadinya? Modal perbankan akan lebih banyak. Dampaknya adalah pada stabilitas sistem pembayaran, yang pada akhirnya, poin ini akan memicu stabilitas sistem keuangan.
Lincahnya Peran Teknologi
‘Teknologi will drive the economy’
Dari data yang ada, penduduk Indonesia yang jumlah penduduknya sekitar 257 juta jiwa, setengahnya, 150 juta jiwa adalah pengguna gawai elektronik.
Belum lagi, jumlah gawai yang kisarannya 314 juta perangkat elektronik yang terhubung dengan internet. Kalau dibayangkan, ya, SATU ORANG MEMILIKI DUA HINGGA TIGA PONSEL PINTAR.