Mohon tunggu...
Muhammad abdul Rolobessy
Muhammad abdul Rolobessy Mohon Tunggu... Jurnalis - Editor

Bahasa mati rasa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Menulis Itu Berantakan, Untuk Dilukis

5 Oktober 2024   18:12 Diperbarui: 5 Oktober 2024   19:48 103
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber gambar.Abdoel

Di sebuah lembah hutan pagi buta, seseorang lelaki yang lahir sederhana dari rahim-rahim Borjuis tak kalah tampan dengan anak-anak muda-mudi desa yang ke kota---atau memang anak kota yang lahir dan menetap lama di sisi asap dan bau aroma parfum orang tua. 

Seseorang lelaki tunggal itu hidup tanpa mengenal apa itu gas, apa itu eletronik, dan apa itu tempat peluncuran para pelacur kota.  Mereka bersaing kelas satu dan dua antara siapa yang juara ranjang kamar tidur. Sontak bingung pula ini sebenarnya kerja pelacur untuk apa.

Bagaimana bisah tulisan ini selesai kalau otak kerja saya yang kian hampir membludak karena memikirkan mantan pacar yang telah tidur berpindah-pindah di pelukan banyak lelaki kota. Saya--- hendak bingung dengan kekagetan wanita, ada apa dengan lelaki dan kota. apakah mereka adalah sebuah ilustrasi yang lahir dari gambaran mata dan bayangan pikiran. Ataukah ada hal lain, awas saja ketika kecewa air matamu bisa tumpah membanjiri kota yang maling kedamaian sejak 1990-2000 ini. 

MENULIS DAN MELUKIS

Menulis adalah keseharian, dan melukis pun juga setiap hari, ini dua kata yang berbeda tetapi memiliki makna sama. Bagaimana kesamaan nya?
Tutur saya dengan fiksi otak yang idealis itu. Dunia melukis adalah sebuah kerja otak yang harus di tuangkan lewat tangan.

Namun ketika bayangan adalah pemenang dari semua realita yang melampaui dinding tembok dan bercak cet-cet berserakan itu, saya fikir otak lebih merasionalkan sesuatu untuk menolak menuangkan nya di atas papan gambar. Sapa tahu yang saya gambar itu perempuan telanjang atau lelaki tanpa celana dalam. Kan bisa saja semua orang tahu bagaimana jenis-jenis kemaluan itu, fulgar kata bapak saya.

Di dunia pertempuran, menulis adalah keesaan terbaik menyampaikan keresahan informasi karena pelbagai para nabi telah mati dan pasif. , dan juga dinamika yang dilihat tak sesuai isu asupan publik. Bagaimana saya lahir dengan mata melotot rambut keriting untuk menulis banyak hal yang kian fikir saya adalah sesuatu tak kunjung banyak orang menemukan solusinya. Dan ketika mereka menemukan solusinya pasti ribet saja hidup ini. 

Tak semua realita itu di tulis, ia; kenapa?
Karena ketika di tulis mereka pasti tahu bagaimana itu neraka dan dunia, mereka berbeda dari penjara dan garis katulistiwa yang terbit bersama fajar. Bersatu dari sebelas ribu kilo meter, saya kembali hidup dari transmigrasi sum-sum wajah, otak dan perlengkapan tubuh lainya. Ia ruh itu punya tuhan, namun saya punya raga dan kuasa atas badan yang tegar ini. 

Saya keluar dari lembah hutan pada 2019, saya terperangkap lebih lamanya dalam gelora-gelora asmara ayunda itu. Pada 2016 silam sebuah kapal selam juga merestui hubungan yang ku sebuh kaki kepala itu. Lelah batin namun bahagia selalu bertanya kenapa saya harus di sisi kalian berdua. Saya memarahinya. 

Loh, kenapa kau dan aku lahir bersamaan?

Apakah ini nilai-nilai moralitas yang tersisa atau bekas-bekas daun dan pohonan yang tumbuh lurus itu.tidak tahu katanya. Bingung juga menjawab pertanyaan ini. Pembaca saja bisa memicu konflik dengan tulisan ini. Karena sebagian dusta sudah ditulis jelas di lembaran kertas-kertas agama. Dosa kata mereka. Dan kami berakhir hilang!

Tempat tinggal adalah sebuah berteduh nyaman dan aman, saya beranjak pergi ke kota karena ilmu, materi dan wanita. Bagaimana bisa saya melihat mereka telanjang dada dan menari mengunakan kaos hitam panjang dan celana jeans lesu cerdas bercumbu, dan mencium lawan bibir yang getar gempa dan tsunami itu.  

Di sebuah cendana kota, saya berada di rumah tertua. Memain handphone dan berbalik badan karena kenyang. Menghabiskan sebatang rokok dan mendengarkan ayam berkokok di jam tiga malam, sunyi yang paling berisik. Bermain media whatsapp, Twitter, facebook, dan juga Instagram. Kok, kenapa di beberapa ribuan wajah asing dan juga tawar-tawar muda mudi maluku ini hendak biasa-biasa saja. 

Setelah saya scrol beberapa dekade waktu, saya menemukan nama akun Instagram, ia memosting sebuah foto yang ia pose mungkin disebuah cafe yang hampir bernama arab-araban itu. Dengan baju lesu, kain panjang putih dan jilbab hitam dan rok yang sama dengan kerudung. Saya fikir anak kantoran, he-he-he, ternyata mahasiswa semester enam.

Senyum manisnya adalah kelembutan tuhan, kalau galaksi matanya yang buram juga bagian kekurangan yang ku anggap adalah kelebihan untuk tak melirik banyak lelaki kota. Tapi ia lebih suka lelaki desa. Katanya, saya itu di jodohkan oleh ayah saya dengan lelaki bercorak bule. Lah, di sana emang ada bule?
Setahu saya beberapa kulit dan lembab wajah biasa-biasa saja. Memang laut itu suka bercanda kelebihan. 

Hendak, saya berkomentar di dinding media Instagramnya, Saya menulis karena tempat itu tak asing bagi saya yang terus melintas pergi mendengar dan membaca di gedung-gedung kaset lesu itu.

Cafe anidem?

Ia, kak.

Wah, sudah di arab saja.

He-he-he.

Alamat mana?

Laut!

Walah, ada buat apa?

Baring-baring, kak.
Kalau kaka sendiri, ada buat apa?

Paling jaga ruang berukuran 4x2. Itu!
Sama seperti dirimu, baring-baring juga.

Saya pun tak lupa melantunkan sebuah isi-isi kata-kata dinamis lebay, dan juga puisi-puisi. Dengan begitu saya tak lama membuat dinamika memikat perempuan. Bagimana kalau ia lepas nanti, boleh minta kontak whatsapp?

Ia, boleh bang!

Oke..! Mana agar lanjut di whatsapp saja.

Perempuan itu memberikan, nomor WhatsApp nya dengan dalil, kosong delapan dua tiga dan berakhir sembilan-sembilan, dua lima!

Kita mengobrol di larut malam, dan hingga jam sudah subuh ia matikan telepon itu.
Besok pagi saya hendak menghubungi dirinya, dengan sok kenal dan semestinya tidak akrab itu. Kami memulai videocall yang akhirnya melukai. 

Hendak saya bentak keras karena saya tidak suka perempuan yang berstatus hidup menyukai banyak lelaki. di pekan bulai mei kami berpacaran. dengan tegas masalah yang banyak. Saya suka temperamental. Dan dia dengan moodnya hinggap ber abad-abad di pikirnya yang ku anggap kosong dan tolol itu.  

Dasar perempuan dengan bunga cinta yang banyak moodnya. Tak ada masalah putus dan nyambung. Heh! Ini manusia atau kedelai yang di benci para duri-duri.kan itu racun!

Dalam benak yang ku ingat selalu bahwa, ia tak suka dengan lalaki yang suka banyak perempuan. Eh, Malah sebaliknya! ia adalah perempuan ranjang berdarah dingin salju, di atas kemauan ingin menyukai yang keren namun tak cocok dengan perihal sok agamais itu.

Lantas ku kirimkan sebuah buku yang di tulis oleh Tere Liye dengan judul " Daun yang jatuh, tak membenci angin". Ia agar ia tahu, ketika rahasianya ia beri tahu kepada angin jangan salahkan pohon bercerita kepada orang lain. Nyaris hubungan itu selesai dan saya benci kata berhenti atau putus. 

Dia berulah dengan segenap jiwa mengakhiri hubungan. Saya juga bisa, lantas hidup yang hampir mati itu, saya hendak datang dan pura-pura sayang untuk mengatakan hal yang sama. Katong sampe di sini jua. Yah, cerita ini usia dan saya selalu menggambarkan tubuhnya yang menyala,di barengi lagu bernadya. Satu bulan. Ia, laman ini saya tulis dengan corak pikiran melukis tubuh-tubuh yang dosa.

Cinta adalah sepasang fatamorgana yang memiliki lebih dari pata hati. Maka ijinkan aku mencintai anggur dan menyembelih sebuah seekor burung ababil saat adzan mengundang, aku bergerak menuju ibdah Akan ku doakan cinta tak lagi sama, dan sehat adalah hari raya bagi yang saling mencintai.

Selesai.?

Ia, kami selesai dan saya kembali tinggal di hutan belantara, hidup dalam hari-hari berburu hewan-hewan yang baru lahir dan mematikan mereka menggunakan kata-kata. Kalau busurku membelok kiri maka kau adalah santapan balas dendam kalau kanan maka ada ikatan kau dan mesjid surgawi di tahta dan fatwa tuhan.

Berburu rusa dan wanita adalah keusilan remaja, karena penakluk bisa sadar bagaiman jenis-jenis gadis desa yang manja telah menunggu dirinya diujung belati yang tajam kota jakarta.  

Sumber penulis: M. Abdul Rolobessy

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun