Bahkan dalam debat yang penting, kita mungkin berharap bahwa fakta-fakta akan membantu. Belum tentu: ketika kita mendengar fakta yang menantang kita, kita secara selektif memperkuat apa yang sesuai dengan kita dan mengabaikan apa yang tak sesuai.
Di tengah gejolak polarisasi politik, bias tersebut akan semakin kuat. Ketika orang mencari kebenaran, fakta membantu. Tapi ketika orang pilih-pilih bukti hanya untuk menegaskan identitas atau ideologi politik mereka, fakta justru bisa menjadi bumerang.
Pertimbangkan isu perubahan iklim. Saat ini, prediktor terbaik untuk melihat apakah seseorang setuju bahwa perubahan iklim itu nyata bukanlah seberapa banyak temuan ilmiah yang mereka ketahui, melainkan di mana posisi mereka dalam spektrum politik.
Masalahnya adalah bahwa ketika kita ingin mempercayai sesuatu, mencari tahu apakah hal tersebut benar bukanlah prioritas otak kita. Sebaliknya, kita akan menciptakan berbagai alasan palsu untuk memberikan kredibilitas terhadap klaim paling konyol sekalipun.
Semua itu adalah gambaran menyedihkan bagi kita semua, apalagi menjelang Pemilu 2024. Fakta, tampaknya, sudah ompong. Saya melihat ini sebagai hal yang gelap. Kita berada di masa yang cukup menakutkan dan mencekam. Tapi kita tak boleh membiarkannya.
Apakah ada jawabannya?
Mungkin ada. Para peneliti berpendapat bahwa orang yang punya rasa ingin tahu secara ilmiah memiliki alasan ekstra untuk mencari dan memegang fakta. Dalam pengertian ini, berita hoaks masih akan ada, tapi orang yang ingin tahu akan menahan kesimpulannya.
Sebuah studi menunjukkan bahwa ketika para peserta kesulitan membedakan mana pernyataan yang benar dan yang salah, mereka semakin mengandalkan firasat dan mengabaikan fakta. Mereka meyakini kebenaran informasi hanya jika itu menguntungkan mereka.
Keingintahuan, sebaliknya, mendorong orang untuk mengesampingkan firasat dan memotivasinya untuk mencari tahu lebih dalam. Mungkin ini adalah satu-satunya obat untuk masyarakat di mana kebanyakan orang tak memerhatikan fakta karena menganggapnya membosankan atau membingungkan.
Pertanyaannya, bagaimana kita bisa membuat orang mencari tahu?
Jurnalis dan pembuat kebijakan tak bisa memaksa siapa pun untuk memerhatikan fakta-fakta yang ada, tapi mereka bertanggung jawab untuk membuat orang ingin mencari tahu. Fakta jarang bisa berdiri sendiri; fakta membutuhkan seseorang untuk membuat kita peduli dan penasaran.
Salah satu jalan keluarnya adalah dengan menyajikan fakta secara menarik dan relevan. Sama seperti sayuran. Saya tak suka sayur, tapi ketika itu disajikan sedemikian rupa sampai bikin saya ngiler, saya tak melihatnya sebagai sayur, melainkan makanan lezat.