Hanya saja risikonya, pasien tersebut mungkin meninggal sebelum dokter tersebut berhasil mempelajari tumor otak.
Ini seperti Anda yang gemar bermain sepak bola, kemudian berhadapan dengan dunia musik yang tidak Anda kuasai. Apakah Anda harus menyerah? Jika Anda berkenan untuk mundur dan mempelajari seni musik, Anda bisa terus berjuang di sana.Â
Itu berarti, potensi internal masih hidup.
Tetapi jika Anda tidak ingin mundur dan hanya memaksakan diri untuk berada di tempat yang asing bagi Anda, kemungkinannya tidak berbeda dengan menyiksa diri sendiri. Dalam jangka panjang, Anda hancur.
Mungkin Anda beranggapan bahwa teman saya benar dan menunjukkan betapa buruknya contoh yang saya berikan. Memang demikianlah adanya: saya sengaja memberikan contoh tentang dokter agar kita bisa membedakan potensi yang masih hidup dengan yang sudah mati.
Saya suka ironinya: menyerahlah ketika Anda tidak punya peluang dan Anda tidak bisa melakukannya lagi. Bahkan ketika peluang itu masih ada dan Anda tidak bisa melakukan apa-apa lagi, keputusan untuk memaksakan diri hanya akan menjadikan hasilnya lebih kacau.
Atau seperti yang dikatakan Sigmund Freud, "Jika Anda tidak bisa melakukannya, menyerahlah!"
Kesimpulan dari dua premis yang saya ambil tidak akan punya nada-nada heroisme bahwa:
Pincangnya salah satu potensi (internal atau eksternal) akan sangat berpengaruh dalam menyalakan alarm kita untuk segera menyerah. Ini tidak membuktikan betapa payahnya kita, dan justru membuktikan betapa bijaksananya kita.
Seorang sopir yang andal selalu tahu kapan waktunya menginjak pedal gas dan kapan waktunya menginjak pedal rem. Kita adalah sopir kehidupan kita sendiri. Dan orang-orang bijaksana adalah sopir yang paling andal.
Menyerah bukan berarti sebuah akhir
Dulu, saya berkecimpung lama di tempat yang tidak saya sukai. Satu-satunya alasan saya belum berhenti adalah karena saya begitu khawatir tentang apa yang akan dipikirkan orang lain jika saya menyerah.
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!