Seperti halnya yang dilakukan KPID Jawa Barat yang 'seenaknya' membatasi jam tayang 17 lagu luar negeri yang memiliki lirik menjurus sensual. Secara moral memang praktis menolong, tapi mengorbankan kreativitas pemusik dan eksistensi radio yang memang hidup dari selera penikmat radio terhadap lagu tersebut.Â
Jika tidak ada lagu yang disukainya hilang karena dibatasi jam penayangan, maka siap-siap saja penikmat radio untuk hengkang dan menjadi mp3 fans. Thanks, KPID Jawa Barat.
Sekali lagi, wewenang dan dalih 'hanya' sekedar menjalankan tugas sekaligus menunjukkan bahwa selera seseorang (atau puak) pun dapat memandang rendah selera orang lain. Ini tidak lain dari pengaruh kebersamaan secara langsung yang tidak lagi dibudayakan dalam kehidupan orang-orang Indonesia. Begitu pula dengan menentukan mana lagu yang cocok untuk radio mana yang tidak cocok untuk diputar dalam area publik.
Carilah makna dari sebuah keseruan mencari lagu yang cocok dengan mood kita tanpa diganggu oleh apapun. Radio hadir dan menghadirkan keinginan kita akan pola keseruan tersebut sehingga kecintaan kita pada media berbasis suara ini tidak hilang.Â
Justru, jika kita bisa bijak mengolah waktu dan tidak mengganggu kebiasaan kita maka tidak perlulah budaya kita mendengar radio berubah hanya karena tidak sesuai dengan selera orang lain.
Mari kita mendengar radio bersama-sama.
*artinya sekelompok (sumber: KBBI luring)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI