Walau itu berarti aku pandir.
***
Aku tak mengada-ada, kan?
Coba mahasiswa tadi gak langsung julid padaku. Mau berpikir lebih jauh.
Kan, dengan hipotesis di atas dia bisa mengungkap empat hal ini:
- Jumlah sepatu dan koper yang rusak karena tak dipakai selama pandemi Covid-19 per rumahtangga kota Jakarta.
- Jumlah nilai kerugian dan atau biaya reparasi yang timbul akibat kerusakan koper dan sepatu per rumahtangga kota Jakarta.
- Jumlah nilai pembelian sepatu dan koper baru per rumahtangga pasca-pandemi Covid-19.
- Implikasi kerusakan sepatu dan koper itu terhadap omzet bengkel reparasi dan industri koper dan sepatu domestik.
Tapi sudahlah. Mahasiswa tadi sudah terlanjur malas mikir.
Sayangnya, aku tak sempat mengingatkannya. Otak kalau lama tak dipakai buat mikir, nasibnya ya macam koper dan sepatuku itulah. Rusak!
Makanya jangan malas mikir.
Tapi, ya, gak maido juga, sih. Rerata IQ orang Indonesia itu konon cuma 78.49 (?). IQ segitu mungkin memang gak cukup buat mikir logis. Â Cuma cukup untuk minta maaf jika bikin konten sesat pikir.
Kendati begitu, janganlah putus asa.
Ada cara sederhana untuk adah pikir. Sekurangnya tulislah satu paragraf per hari. Itu tandanya masih bisa mikir.Â