Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menerobos Masa Depan

Kepala SMP Negeri 52 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pasar Gaib Hotel Angsana

29 Desember 2020   10:26 Diperbarui: 29 Desember 2020   10:54 393
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Apa pun yang terjadi, aku tak boleh bicara. Apalagi berkomentar terhadap kejadian di situ. Pantangan yang sama sekali tak boleh dilanggar. Akibatnya, tak bisa pulang. 

Kamu siap, kan? 

Aku mengangguk.  Tak ada jalan lain kecuali jalan yang ditawarkan Umat kepadaku.  Mau gak mau, siap gak siap, segalanya sudah tak diperlukan lagi. Tinggal jalani saja. 

Kamu harus tetap di belakang ku. Lihat saja. Kalau ada barang yang hendak kamu beli karena kamu menyukai nya, beri tanda ke aku. 

Aku mengangguk. Tak mungkin membantah apa yang dikatakan Umar. 

Oh, iya. Umar itu sebetulnya teman sekolah sejak SD, SMP, dan bahkan SMA.  Setelah lulus SMA, Umar menggeluti bakat yang diwarisi dari bapaknya menjadi dukun. 

Obot yang dibawa Umar meliuk liuk diterpa angin. Bayangan dari benda benda di pinggir lorong itu seakan berubah menjadi makhluk hidup yang bergoyang-goyang mengikuti arah api obor. 

Bulu kudukku mulai merinding.  Tapi aku tetap berjalan pelan di belakang Umar. Aku dengar samar samar Umar melafalkan mantra mantra itu. 

Ketika sampai di sebuah gerbang, mendadak angin besar meniup obor yang dibawa Umar. Obor itu langsung mati. Kondisi menjadi gelap gulita. Hanya tampak samar samar bayangan Umar berjalan pelan di depan ku. Sambil terus melafalkan mantra yang semakin sayup. 

Kemudian samar samar mulai terlihat lampu.  Tidak cuma satu. Ada banyak. Bukan hanya lampunya yang banyak, tapi juga banyak orang di situ. 

Tak ada suara. Hanya semacam dengungan saja suara mereka.  Seperti sedang ada banyak transaksi di pasar itu. 

Umar berjalan terus melewati pasar. Aku sendiri tak berani menatap ke samping. Karena orang orang itu terus mendengung dengung. 

Ayah! 

Aku seperti mengenal suara itu. Ya, suara anaku bontot. Kenapa ada di sini? Penasaran pengen nengok tapi takut juga. 

Ayah! 

Suara itu semakin jelas. 

Tolong dede, Yah! 

Aku tak bisa menahan rasa penasaran. Aku menengok ke asal suara. Agak gelap. Tapi dari rambutnya aku kenal betul kalau itu anak bontotku. 

Ya, anak yang sedang menangis di bawah gazebo untuk jualan itu anaknya.  Dia tampak tak bisa bergerak. Tubuhnya tertindih tiang gazebo. 

Aku berhenti sejenak. Sinar temaram itu tak mungkin membuatku pangling dengan anakku sendiri. Aku berdiri terpaku. 

Kalau kamu pergi ke pasar gaib Hotel Angsana, salah satu anakmu akan dikirim ke sana. 

Masa? 

Anakmu akan jadi landasan gazebo, atau menjadi pesuruh penghuni pasar gaib itu. 

Aku ingat kata kata kakakku.  Aku langsung berbalik. Aku tubruk anakku itu. Aku tak mungkin menukar jiwa anakku untuk kesenangan ku sendiri. 

Dan bersamaan aku jatuh memeluk anakku, keramaian pasar itu langsung lenyap. Hanya sebuah tanah lapang. Dan di depan ku berdiri Umar. Ia terpaku melihat aku yang tersuruk di tanah. 

Kamu gagal, Kam. 

Tapi kamu berhasil menyelamatkan keluarga mu. Dari semula memang aku sudah ragu dengan kebulatan tekadmu. Tapi tak apa. Ayo, pulang! 

Sampai di rumah kulihat anakku sedang tertidur pulas. Aku cuma bisa menangis. 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun