Lagi-lagi sebuah perkara! Aku mengeluh dalam hati. Begitu sulitkah mendapatkan apa yang dipinta? Kali ini purnama lah yang meredupkan dirinya sendiri. Atau sepertinya dipaksa?
Gerhana! Ini lawan yang tak bisa kutandingi. Pada perjalanan purnama, gerhana adalah takdir yang tak bsia dihindari. Mendung bisa pecah, angin bisa melemah, tapi gerhana tidak pernah patah.
Aku memutuskan menunggu. Ini hanya masalah jeda waktu. Tidak mungkin gerhana terjadi terus-terusan. Setelahnya aku bisa kembali menguasai bulan. Kali ini, aku tidak merasa menang. Tapi juga tidak merasa kalah.
Dan aku menunggu. Tetap di tempat sama. Sendirian di taman kota. Sebelum semua keheningan terusik dengan kedatangan orang-orang. Berduyun-duyun mereka masuk ke taman. Ada yang duduk, berdiri dan ada juga yang lesehan sambil membentang tikar. Apa-apan sih ini?
Dari mata orang-orang itu terpancar sesuatu yang sudah aku hafal namanya. Cinta. mereka semua menengadahkan kepala ke langit. Hening. Tapi dari sorot mata masing-masing orang beterbangan kupu-kupu. Pertanda kekaguman dan cinta yang sedang mengharu-biru.
Aku tahu mereka sedang memusatkan perhatian pada gerhana. Tapi aku juga tahu setelahnya mereka akan tetap di sini untuk mencari kehangatan purnama. aku tahu persis itu. Dan aku cemburu.
Duh sialan! Mereka semua jatuh cinta pada purnamaku!
Ini tak boleh terjadi! Apa yang harus aku lakukan? Tak boleh ada sesiapapun yang boleh merebut kekasihku. Aku harus memikirkan sebuah cara.
Mendadak aku teringat sesuatu. Aku tersenyum menguatkan tekad. Biar mereka semua tahu rasa! Cemburuku sekarang cemburu tak bermata.
Aku pergi ke balik pohon-pohon besar yang rindang. Menggunakan kekuatan batin yang entah darimana kudapatkan, aku berseru tanpa suara. Memanggil angin. Mengundang mendung.
"Angin, lihat itu! Kalau kau tadi hanya cemburu kepada satu orang sepertiku, maka lihatlah itu. Kerumunan orang di taman sedang beramai-ramai jatuh cinta pada purnama. Lakukan seperti yang telah kau lakukan padaku."