"Masak lupa sih, Pak. Ini Andien. Aku sangat rindu kopi angkringan ini yang tidak dimiliki kedai manapun."
Tawa kami berderai. Angkringan itu makin riuh saja dengan pembicaraan kita. Sedangkan mereka yang menikmati hidangan angkringan seakan angin lalu. Kursi panjang itu sudah kukuasai. Ceker dan teman-temannya juga khusyuk mendengarkan perbincangan kami.
***
Malam-malam berikutnya langkahku tak pernah berhenti mengunjungi angkringan Pak Soleh. Tinggal dua malam saja aku bisa menikmati kopi kenangan. Dengan orang-orang yang menjadi saksi kenangan itu. Jejak kopi itu rupanya sudah menemukan cangkir terakhirnya.
"Jadi ..., kalian ndak pernah saling ketemu semenjak wisuda itu ya, Ndin?"
"Begitulah, Pak. Waktu itu komunikasi kami terputus. Hapeku hilang di perjalanan pulang menuju Bogor."
"Apa tidak menghubungi alamat rumahnya, maksudku mengirim surat?"
"Alamatnya pun aku tak tahu, Pak."
"Kok lucu lo, pacaran sudah lama ndak tahu alamat rumah. Wes... wes..."
"Perlu tahu ya, Pak?"
"Ya, iya lah, Ndien. Kalau sudah begini kamu mau nyari di mana? Hayo. Lak repot."