Sebuah perenungan tentang untuk apa kita diciptakan. Arafah adalah sebuah potret kecil tentang Mahsyar.
Mahsyar adalah sebuah hari dimana manusia akan ditimbang kadar Al-Haq dalam dirinya. Mahsyar adalah sebuah hari yang sangat terik yang tidak ada penghalang atasnya. Mahsyar adalah sebuah hari yang mencekam dimana manusia ditimpa resah dan gelisah. Kegelisahan yang teramat sangat karena Mahsyar adalah hari penantian tentang nasib manusia apakah ia akan masuk surga atau neraka.
Arafah merupakan sebuah lembah yang terletak di antara Muzdalifah dan Thaif. Terbentang mulai dari perbatasan kawasan Arafah sampai di gunung yang dinamakan Jabal Arafah, mengelilingi lembah ini mulai dari arah timur berbentuk seperti setengah lingkaran.
Di ujung sebelah selatan adalah jalan menuju Thaif dan ujung utara terdapat Jabal Rahmah. Di sebelah barat terdapat sebuah bukit bebatuan, di tempat inilah Rasulallah berkhutbah. Di bawahnya terdapat sebuah mushalla yang dikenal dengan nama mesjid Shakrat. Jarak antara batas awal Arafah dengan kaki gunung Arafah sekitar 1500 meter.
Wukuf di Arafah dianggap sah jika kita berada di salah satu bagian di kawasan yang diterangkan di atas dengan syarat dalam keadaan ihram, baik itu berjalan kaki, dalam tenda, ataupun dalam kendaraan atau tertidur sekalipun, mengetahui ataupun tidak bahwa daerah tersebut adalah Arafah sepanjang melaksanakan wukuf pada waktunya.
Semua kawasan padang Arafah merupakan tempat berwukuf, kecuali kawasan 'Uranah. Menurut ijma' ulama, apabila seseorang wukuf di Uranah, maka wukufnya tidak sah. Wukuf diutamakan berada di bebatuan (shakharat), sebuah tempat di mana Rasulallah shallallahu 'alaihi wa sallam melangsungkan wukufnya.
Seseorang yang hendak wukuf di Arafah disunatkan mandi terlebih dahulu sebelum berdiam di tempat wukuf dengan menghadap kiblat sambil membaca tahlil, takbir, talbiyah serta bershalawat kepada Rasulallah shallallahu 'alaihi wa sallam. juga berdo'a dengan penuh kesungguhan. Selain itu, disunatkan pula memperbanyak dzikir kepada Allah dan berdoa karena kita tahu bahwa hari Arafah adalah waktu segala do'a dikabulkan.
Bagi yang belum atau tidak melakukan haji tahun ini, ada ungkapan indah Ibn Rajab dalam Lathaiful Ma'arif; "Siapa yang belum mampu berdiam-wukuf di 'Arafah; hendaklah berteguh-patuh pada bebatas hukum Allah yang telah di ma'rifah. Dan siapa yang belum mampu mabit-bermalam di Muzdalifah; bermalamlah dengan ketaatan pada Allah; agar akrab padaNya & dekat bermesra. Siapa yang belum kuasa menyembelih hewan hadyu-nya di Mina; hendaklah dia sembelih hawa nafsunya agar teraih karunia. Dan siapa yang belum mampu sampai ke Baitullah bersebab jauhnya, hendaklah dia tuju Rabbnya Ka'bah yang lebih dekat daripada urat lehernya." (Lathaiful Ma'arif/633).
Secara amaliyah, wukuf berbeda dengan thawaf, sai, atau shalat yang membutuhkan gerakan-gerakan tertentu. Thawaf bergerak mengelilingi Kabah; Sai berjalan antara Shafa dan Marwa; demikian juga dengan melontar Jumrah yang berjalan ke jamarat dan melontarinya dengan kerikil-kerikil. Wukuf yang merupakan rukun terpenting haji, justru dilakukan dengan berdiam diri. Saat wukuf tidak ada aktifitas kecuali dengan duduk memperbanyak istighfar, dzikir dan bermunajat kepada Allah SWT.